Gempa kuat guncang Tibet, 16 orang dilaporkan tewas - Apa yang diketahui sejauh ini?

gempa, tibet, gempa tibet, 23 Oktober 2026
Keterangan gambar, Tangkapan layar dari rekaman CCTV+ yang dirilis pada 23 Oktober 2026 memperlihatkan tim penyelamat mencari korban di antara reruntuhan dengan bantuan senter setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Nagqu, Daerah Otonom Xizang (Tibet), China.
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 5 menit

Gempa berkekuatan 7 magnitudo mengguncang wilayah pegunungan di Tibet dan menewaskan sedikitnya 16 orang, menurut media pemerintah China.

Otoritas setempat menetapkan status darurat dan mengerahkan tim penyelamat ke lokasi. Sebanyak 54 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Media pemerintah kerap menjadi satu-satunya sumber informasi tentang Tibet, wilayah yang berada di bawah kendali ketat China sejak dianeksasi pada 1950-an.

Pusat gempa berada di Kabupaten Baqên, wilayah Nagqu, pada Kamis malam, lapor kantor berita Xinhua mengutip biro manajemen darurat setempat.

Kabupaten tersebut terletak sekitar 400km di timur laut ibu kota Tibet, Lhasa.

Lebih dari 300 rumah dilaporkan ambruk, sementara pasokan listrik di sebagian besar wilayah terdampak terputus.

Kerusakan luas di wilayah pegunungan

Laporan video yang direkam tim CCTV pada Jumat pagi di Maruxiang, salah satu desa yang terdampak paling parah di Nagqu, memperlihatkan besarnya kerusakan akibat gempa.

Rekaman tersebut menunjukkan dinding-dinding bata runtuh akibat kuatnya guncangan, sementara rumah-rumah tradisional mengalami retakan dan terbelah pada bagian sambungan dindingnya.

Video itu juga memperlihatkan keluarga-keluarga berkumpul di area terbuka, dikelilingi puing-puing bangunan dan pagar yang roboh.

Menurut laporan tersebut, warga desa sempat tidak mendapatkan pasokan listrik dan akses internet sepanjang malam. Namun, hingga Jumat pagi, tim penyelamat disebut telah mulai memulihkan aliran listrik secara bertahap di wilayah terdampak.

Tim penyelamat mencari korban di antara puing-puing bangunan dengan menggunakan senter setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Daerah Otonom Xizang (Tibet), China, di Nagqu, 23 Oktober 2026.
Keterangan gambar, Tim penyelamat mencari korban di antara puing-puing bangunan dengan menggunakan senter setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Daerah Otonom Xizang (Tibet), China, di Nagqu, 23 Oktober 2026.
gempa, tibet, 23 Oktober 2026
Keterangan gambar, Sedikitnya 16 orang tewas dan 11 lainnya mengalami luka serius hingga pukul 05.20 waktu setempat pada Jumat setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Daerah Otonom Xizang (Tibet), barat daya China, pada Kamis (22/10) malam.

Apa tantangan dan kendala yang dihadapi tim penyelamat?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
BBC News Indonesia - Kini hadir di
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Tim penyelamat di Dataran Tinggi Tibet memiliki pengalaman luas dalam menangani gempa bumi karena wilayah ini memang rawan terhadap bencana tersebut.

Namun, kawasan ini juga menghadirkan sejumlah kondisi penyelamatan yang paling menantang.

Pusat gempa berada di ketinggian sekitar 4.800 meter di atas permukaan laut, seperti dilaporkan koresponden BBC di Beijing, Laura Bicker.

Wilayah pegunungan tinggi ini terdiri atas desa-desa yang tersebar di lembah-lembah curam, sementara suhu pada malam hari berada di bawah titik beku.

Tim penyelamat setempat terbiasa berlatih dan bekerja bersama serta memiliki pengetahuan teknis mengenai medan pegunungan. Mereka juga dikenal mampu bergerak cepat ketika bencana terjadi.

Pada Januari 2025, ketika gempa kuat mengguncang wilayah Shigatse di Tibet, personel militer, petugas pemadam kebakaran, polisi, dan tim penyelamat khusus telah tiba di lokasi hanya dalam hitungan jam.

Militer China juga memiliki drone yang dapat digunakan untuk membantu memetakan dan menilai kondisi wilayah terdampak dari udara.

Gempa terasa seperti 'ratusan yak lari melintas'

Sejumlah warga yang selamat dari gempa menceritakan pengalaman mencekam mereka kepada media setempat setelah guncangan kuat mengguncang wilayah Nagqu.

Kepada Tibet Daily, seorang warga Nagqu bernama Yixi Cuomu mengatakan ia sedang tertidur ketika rumahnya mulai berguncang hebat.

Menyadari telah terjadi gempa, ia bergegas keluar rumah tanpa alas kaki, dengan "kakinya gemetar tak terkendali" saat menuruni tangga.

Saksi mata lainnya menggambarkan kekuatan guncangan tersebut dengan mengatakan bahwa "pada saat itu saya merasa seolah-olah ratusan yak berlari melintas di dekat kami".

Yak adalah hewan mamalia besar berbulu yang hidup di Dataran Tinggi Tibet dan Pegunungan Himalaya.

Menurut laporan media setempat, banyak warga memilih menghabiskan malam di tengah suhu di bawah titik beku dengan berlindung di tenda atau di dalam kendaraan mereka.

Mereka khawatir gempa susulan dapat membuat mereka terjebak di dalam rumah.

Gempa terjadi pada larut malam

Video yang beredar di media sosial menunjukkan warga berlarian ke jalan saat bangunan berguncang hebat di tengah kegelapan malam.

Gempa terjadi pada Kamis larut malam dan diikuti sejumlah gempa susulan berkekuatan kuat, seperti dilaporkan koresponden BBC News di Beijing, Laura Bicker.

Sedikitnya 339 rumah dilaporkan ambruk, menurut media pemerintah China.

Hingga kini, tingkat kerusakan akibat bencana tersebut masih terus didata.

Tim penyelamat telah tiba di pusat gempa yang berada di wilayah dengan ketinggian lebih dari 4.800 meter di atas permukaan laut.

Dataran Tinggi Tibet merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap aktivitas gempa bumi.

Pada Desember 2023, lebih dari seratus orang tewas setelah gempa bumi mengguncang Provinsi Gansu di China.

gempa, tibet, CCTV
Keterangan gambar, Rekaman tersebut menunjukkan dinding-dinding bata runtuh akibat kuatnya guncangan.

PM China serukan 'upaya mendesak' untuk menolong korban luka

Perdana Menteri (PM) China, Li Qiang, menyerukan "upaya mendesak" untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan dan perawatan medis bagi korban luka, serta memastikan warga terdampak dipindahkan dan ditempatkan kembali dengan layak, menurut media pemerintah.

Li mengatakan wilayah yang dilanda gempa berada di daerah dataran tinggi dan rentan mengalami gempa susulan.

Kementerian Manajemen Darurat China telah mengirim tim kerja ke wilayah terdampak untuk memandu operasi penyelamatan serta upaya penanggulangan bencana.

Lebih dari 350 personel serta 83 kendaraan dari tim pemadam kebakaran dan penyelamatan China telah dikerahkan ke wilayah terdampak gempa.
Keterangan gambar, Lebih dari 350 personel serta 83 kendaraan dari tim pemadam kebakaran dan penyelamatan China telah dikerahkan ke wilayah terdampak gempa.

Jumlah korban luka bertambah dan dampak gempa lebih parah

Informasi terbaru yang disampaikan pejabat China melalui media pemerintah, jumlah korban luka akibat gempa di Tibet meningkat dari 32 menjadi 54 orang.

Sejumlah korban dilaporkan mengalami luka serius dan sedang menjalani perawatan.

Pejabat setempat juga menaikkan status tanggap darurat dari level IV menjadi level III.

Dalam sistem penanganan bencana di China, respons darurat level I diterapkan untuk bencana paling serius, sementara level IV merupakan tingkat respons terendah.

Lebih dari 350 personel serta 83 kendaraan dari tim pemadam kebakaran dan penyelamatan China telah dikerahkan ke wilayah terdampak gempa.

Apa yang diketahui sejauh ini?

Gempa berkekuatan magnitudo 7 mengguncang wilayah Nagqu, kawasan pegunungan yang luas dan jarang penduduk di timur laut ibu kota Tibet, Lhasa, berdasarkan laporan setempat.

Sedikitnya 16 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka, menurut media pemerintah China.

Ratusan rumah dilaporkan ambruk di wilayah terdampak, kata pejabat setempat.

Akses jalan dan pasokan listrik terputus, sementara desa-desa yang terdampak berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 4.800 meter di atas permukaan laut.

Gempa ini menjadi yang paling mematikan di wilayah tersebut sejak 2023, ketika 120 orang tewas akibat gempa bermagnitudo 6,2 yang mengguncang Provinsi Gansu di China.

Sebagian besar informasi yang tersedia sejauh ini berasal dari kantor berita pemerintah China, Xinhua, yang mengutip pejabat daerah dan layanan darurat.

Media pemerintah sering kali menjadi satu-satunya sumber informasi mengenai Tibet, wilayah yang berada di bawah kendali ketat China sejak dianeksasi pada 1950-an.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.