Pengusaha mulai PHK karyawan

China industry
Keterangan gambar, Industri tekstil Cina dianggap terlalu kuat untuk Indonesia
Telah diterbitkan

Pemberlakuan era perdagangan bebas FTA ASEAN-China mulai Januari depan, makin mengkhawatirkan pengusaha lokal.

Sebagian diantaranya mengatakan mulai terjadi perumahan karyawan akibat produknya kalah saing dengan roduk Cina.

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia API, Ade Sudrajat, mengatakan sektor tekstil sudah sejak lama terpukul akibat kalah saing dengan produk murah asal Cina.

Menurut catatan API, semakin mendekati pemberlakuan FTA ASEAN-China, sudah ada perumahan lebih dari 11 ribu buruh dalam industri tekstil di Indonesia.

Pangsa pasar tekstil dalam negeri, menurut Ade, kini mencapai $ 4-5 milyar.

Sementara sampai dengan akhir 2008, perbandingan ekspor dan impor tekstil asal Indonesia-Cina dan sebaliknya sudah defisit $ 1,2 milyar.

"Nah tahun ini minusnya akan sampai $ 1,5 milyar. Padahal itu masih dikenai bea masuk 5 persen."

Tunda pemberlakuan

Berbagai kalangan pengusaha mendesak pemerintah mengambil langkah tegas melindungi dunia usaha dan industri Indonesia dari ancaman kebangkrutan akibat kalah saing dengan produk asal Cina.

Sebagian bahkan minta pemerintah menangguhkan pemberlakuannya hingga tiga tahun mendatang.

Menurut Asosiasi pengusaha Indonesia, ada 16 sektor industri yang belum siap terikat perjanjian perdagangan bebas dengan Cina.

Dalam perdagangan bebas yang tanpa beban tarif masuk menurut Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia API, Ade Sudrajat, pukulan terhadap industri tekstil akan makin berat.

"Menunggu tarif nol persen Januari, retailer sejak tiga bulan lalu sudah menunggu dengan tidak mengimpor barang supaya nanti dapat yang lebih murah bulan Januari," keluhnya.

"Apa yang seperti ini mau dibiarkan?" tegas Ade.

Kekhawatiran pemutusan hubungan kerja meluas dan industri yang mati juga disampaikan Erwin Aksa, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Hipmi.

"Pasti pengurangan produksi. Lay off akan terjadi di berbagai industri karena banyak pelaku akan berubah dari manufacturing ke trading,"simpul Erwin.

Dengan barang ekspor yang jauh lebih murah, produk asal Cina akan sangat kompetitif di pasar Indonesia maupun pasar ASEAN yang selama ini diisi oleh produk buatan Indonesia.