Alat pemantau gunung berapi kurang

Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan dari puluhan gunung berapi yang harus diwaspadai di Indonesia hanya 50 persen yang memiliki alat pemantauan yang memadai.
Pernyataan ini muncul di tengah letupan pasir lembut Gunung Bromo di Jawa Timur yang mengakibatkan hujan abu di Probolinggo dan sekitarnya.
Sejauh ini, katanya, hanya sekitar 34 gunung berapi yang peralatannya memenuhi standard minimal.
Menurut Badan Geologi, sebagian besar Gunung api di luar Jawa belum memiliki alat memantau minimal, padahal Indonesia memiliki 127 gunung berapi dan 79 diantaranya harus diwaspadai karena pernah meletus dalam 1000 tahun terakhir.
Kepala Bidang pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Badan Geologi Hendrasto mengatakan setiap gunung berapi minimal memiliki empat stasiun pemantauan dan dilengkapi dengan alat seismograf.
Dia menjelaskan alat yang sedikit ini mempengaruhi aktivias pemantauan gunung berapi.
"Secara teknis kalau alatnya empat kita bisa mengetahui dimana gempa terjadi. Makanya kalau terjadi peningkatan, gempanya banyak kita pasang tambahan tiga lagi sehingga gempat bisa kita ketahui," katanya.
Badan Geologi juga akan mengusulkan kepada Kementrian ESDM untuk memperbanyak pola pemantauan gunung berapi di Indonesia sampai 2014 nanti.
Targetnya adalah setiap tahun ada penambahan alat pemantauan gunung berapi untuk sekitar 9-10 lokasi. Prioritasnya antara lain Sulawesi, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur.





























