Komite Normalisasi PSSI akan rangkul LPI

Sumber gambar, b
- Penulis, Dewi Safitri
- Peranan, BBC Indonesia
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 2 menit
Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, PSSI, akhirnya menyatakan akan merangkul kompetisi Liga Primer Indonesia, LPI.
Kompetisi ini adalah tandingan liga resmi PSSI - Liga Super Indonesia (LSI) - yang muncul akibat ketidakpuasan terhadap kepemimpinan PSSI sebelumnya.
Keputusan ini juga membuka kemungkinan penyatuan dua liga utama sepakbola di Indonesia.
Klub sepakbola Indonesia akan makin riuh oleh kompetisi ketat untuk masuk daftar klub Liga Utama, setelah LSI dan LPI digabungkan.
Setidaknya itu lah yang masuk dalam bayangan sebagian penggila bola tanah air, begitu keputusan diumumkan ketua Komite Normalisasi PSSI, Agus Gumelar, Senin petang (12/4).
Kemungkinan ini muncul karena, seperti dikatakan anggota Komite, Hadi Rudiatmo, adalah karena Komite tak punya kewenangan lebih untuk membubarkan atau mengakomodasinya langsung ke dalam liga resmi PSSI.
"Kita ini kan mengawal, mengawasi pelaksanaan kongres yang akan diadakan tanggal 20 Mei mendatang itu. Soal LPI, pertimbangannya, karena ini baru lahir, masa mau langsung dibunuh... Sehingga (LPI) akan diawasi oleh PSSI.... sampai dengan kompetisi itu selesai. Setelah itu baru dibicarakan LPI akan diapakan, oleh pengurus yang baru," ujar Hadi.
LPI menyambut hangat
LPI tentu saja menyambut hangat keputusan ini. LPI diperkirakan mengeluarkan anggaran antara Rp10-20 miliar untuk mengongkosi klub yang mau bergabung dibawah kompetisinya dan keputusan Komisi Normalisasi membuat posisinya makin kuat.
LPI juga bertindak cepat begitu mencium peluang akan banyak klub dibawah Liga Super yang akan sempoyongan karena pemutusan kucuran dana setelah APBD ditarik pemerintah mulai 2012.
Seperti dikatakan juru bicaranya, Abi Hasantoso, LPI menawarkan pendanaan untuk klub-klub tersebut.
"Artinya kita akan mencari lagi orang tua asuh, artinya pengusaha-pengusahan nasional yang memiliki kecintaan terhadap sepakbola nasional. Akan langsung membeli bisa kita bantu, atau dengan konsorsium."
Dengan 19 klub dibawah LPI dan 15 klub dibawah LSI, jelas akan terjadi pertarungan sengit memperebutkan tiket untuk masuk daftar maksimum 20 klub dalam kompetisi profesional mendatang, seperti disyaratkan FIFA.
Sejauh ini klub-klub kecil, apalagi yang baru terbentuk seperti belasan klub dibawah LPI, tidak diunggulkan untuk bersaing.
Namun seperti dikatakan manajer Solo FC, Kesit Handoyo, klubnya tidak gentar berkompetisi karena setidaknya aman secara finansial hingga 2013.
Kesit mengatakan siap bersaing dengan klub mapan dibawah LSI yang kucuran dana APBD-nya akan dihentikan tahun depan.
Merger dua liga, diperkirakan paling cepat terjadi dalam 1 atau 2 tahun setelah Liga Super selesai Mei ini, dan Liga Primer pada akhir tahun.
Selanjutnya diperlukan waktu untuk transisi menyaring dan menyiapkan klub yang masuk dalam liga profesional Indonesia.





























