Pemberontak Muslim BRN 'akan terus berperang hingga pemerintah Thailand siap berunding'

Gambar dan identitas para terduga pemberontak dipampang di berbagai tempat antara lain di luar markas polisi Distrik Tak Bai District di Narathiwat.
Keterangan gambar, Gambar dan identitas para terduga pemberontak dipampang di berbagai tempat antara lain di luar markas polisi Distrik Tak Bai di Narathiwat.
Telah diterbitkan

Kelompok Islam terbesar dalam pemberontakan di Thailand Selatan yang telah berlangsung selama 13 tahun, BRN, menegaskan akan terus memerangi pasukan Thailand sampai pemerintah militer negeri mayoritas Buddha itu setuju untuk melakukan perundingan damai dengan mereka.

Dalam wawancara dengan BBC Thai pada awal pekan ini, seorang juru bicara Front Revolusioner Nasional, yang dikenal dengan akronim Melayu Barisan Revolusioner Nasional (BRN), mengatakan bahwa mereka ingin mengadakan pembicaraan damai bilateral dengan pemerintah Thailand secara langsung, dan tidak menjadi bagian dari kelompok payung yang diperantarai oleh Malaysia.

"Pasukan militer kami akan melanjutkan operasi sehingga pemerintah Thailand memberikan peluang untuk menyelesaikan konflik tersebut sebagaimana keinginan kedua belah pihak," juru bicara BRN yang menyebut dirinya sebagai Yusuf, mengatakan kepada BBC Thai di sebuah kota di Eropa yang diminta untuk tak disebut.

"Pendekatan militer kami bukanlah tujuan dari perjuangan itu sendiri. Militer kami hanya alat," kata Yusuf dalam bahasa Melayu.

Ia mengatakan hal itu beberapa waktu setelah pertemuan dua hari antara tim perunding yang dipimpin militer Thailand dan sebuah kelompok payung dari lima kelompok pemberontak, yang disebut Mara Patani, dibatalkan di Malaysia pekan lalu karena tim teknis mereka tidak mencapai kesepakatan pada pembicaraan sebelumnya.

Para petugas polisi thailand meninggalkan rumah seorang tersangka pemberontak Muslim Thailand Selatan, dalam pristiwa tahun lalu.
Keterangan gambar, Para petugas polisi Thailand meninggalkan rumah seorang tersangka pemberontak Muslim Thailand Selatan, dalam peristiwa tahun lalu.

Konflik etnis antara warga Thailand yang beragama Buddha dan Muslim Melayu telah berlangsung sejak lebih dari satu abad yang lalu.

Pemberontakan yang mulai meletus lagi pada Januari 2004, telah menewaskan hampir 7.000 warga sipil, pegawai negeri, pasukan keamanan dan militan. Tidak ada yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas serangan bom dan serangan bersenjata serta pembunuhan para biksu Buddha dan ulama Muslim.

BRN 'ingin damai'

Juru bicara BRN mengatakan bahwa kelompok itu siap untuk melakukan pembicaraan damai, namun tawaran damai mereka kepada pemerintah Thailand April lalu tak dihiraukan, yang menegaskan bahwa satu-satunya cara mereka untuk berbicara dengan BRN adalah kalau BRN bergabung dengan koalisi Mara Patani.

"Aktor utama adalah BRN dan pemerintah di Bangkok. Kedua pihak ini perlu berunding. Jadi proses dialog sesungguhnya ada di antara kedua pihak ini. Sesuatu yang menyimpang dari kenyataan ini adalah apa yang saya sebutkan lagi sebuah sebuah proses kosmetik. Hal itu hanya akan menjauhkan kita dari dialog sesungguhnya."

Seorang milisi paramiliter berjaga di desa I Payae di provinsi Narathiwat, setelah terjadinya serangan trhadap masjid Al Fukhran yang menewaskan 10 jemaah yang tengang salat. Sejak itu tentara Tahiland dan milisi berjaga di sekitar masjid.
Keterangan gambar, Seorang milisi paramiliter berjaga di desa I Payae di provinsi Narathiwat, setelah terjadinya serangan terhadap masjid Al Fukhran yang menewaskan 10 jemaah yang tengah salat tahun lalu. Sejak itu tentara Thailand dan milisi berjaga di sekitar masjid.

Konflik politik

Juru bicara tersebut mengatakan bahwa pemberontakan mereka harus ditangani dengan cara politik, bukan tentara bersenjata.

"Ini adalah konflik politik, bukan konflik ekonomi, bukan konflik terorisme. Jika ingin menyelesaikan konflik politik, perlu dilakukan melalui cara politik," kata Yusuf.

"Jika pemerintah ingin menyelesaikan konflik... apakah mereka sudah puas mengirim pasukan, mengirim senjata ke Pattani, sebagaimana yang telah terjadi dalam 13 tahun terakhir? Semua itu tidak membawa kita pada sebuah penyelesaian. Apa cuma itu yang bisa mereka lakukan?"

Pemberontak Thailand selatan
Keterangan gambar, Polisi Thailand menahan seorang tersangka pemberontak muslim Thailand Selatan menyusul sebuah bentrokan senjata di distrik Rueso, Provinsi Narathiwat, tahun 2016.

Pemerintah Thailand telah menghabiskan hampir 300 miliar baht (Rp121 triliun) sejak tahun 2004 untuk anggaran keamanan, pembangunan pedesaan, dan pengurangan kemiskinan dalam menanggulangi pemberontakan.

Tanggapan dingin

Dalam sebuah wawancara dengan BBC Thai, Jenderal Aksara Kerdpol, kepala tim perdamaian Thailand, menanggapi dingin tawaran BRN.

"Mereka benar-benar ingin berunding karena mereka tidak punya cara lain. Tapi mereka harus melalui jalur yang benar, yaitu fasilitator (Malaysia)," kata Jenderal Aksara.

"Mereka (kelompok-kelompok pemberontak) tidak memiliki kesepakatan di antara mereka. Mereka perlu memecahkan masalah soal persatuan di antara mereka sendiri terlebih dahulu."