Pembunuhan Filipina bertambah

Aparat keamanan mencari pelaku
Keterangan gambar, Aparat keamanan berupaya mencari pelaku pembunuhan
Telah diterbitkan

Jumlah korban tewas akibat pertikaian politik di Filipina selatan bertambah menjadi 57 orang, setelah ditemukan lagi 11 jenazah.

Korban dibunuh hari Senin (23/11) ketika dalam perjalanan menyerahkan dokumen pencalonan kandidat pemilihan umum mendatang.

Politisi setempat, Ismael Mangudadatu, menuduh sebuah keluarga berpengaruh -yang disebut sekutu Presiden Filipina, Gloria Arroyo- berada di balik serangan ini.

Istri Mangudadatu dan sedikitnya 13 wartawan turut menjadi korban.

Presiden Arroyo menyatakan hari berkabung dan berjanji para pelaku tidak akan lolos dari jeratan hukum.

Pada hari Selasa, pemerintah memberlakukan keadaan darurat di dua provinsi Pulau Mindanao guna memungkinkan pengejaran orang-orang bersenjata.

Keluarga berpengaruh

Sejauh ini polisi belum mengumumkan nama-nama tersangka, namun mereka menyatakan sedang memeriksa seorang anggota dinasti Ampatuan, yaitu keluarga yang membantu Presiden Arroyo menang dalam pemilihan-pemilihan sebelumnya.

Para anggota keluarga tersebut belum bisa dimintai keterangan, tetapi Mangudatatu mengaku bahwa orang-orang bersenjata yang setia kepada klan Ampatuan, menyerang konvoi pendukungnya pada hari Senin ketika mereka hendak mendaftarkan diri sebagai calon dalam pemilihan umum yang akan datang.

"Serangan ini benar-benar direncanakan karena mereka telah menggali lubang besar," kata Mangudadatu sambil menambahkan dia telah berbicara dengan sejumlah saksi mata mengenai serangan itu.

Berbagai pihak langsung mengecam aksi itu. Menurut organisasi wartawan yang berbasis di Paris, Reporters Without Borders, serangan itu merupakan "pembunuhan massal terbesar terhadap wartawan".

Adapun Human Rights Watch menyampaikan kekhawatiran bahwa hubungan dekat pemerintah pusat dengan dinasti Ampatuan akan menghambat penyelidikan imparsial.