Janji dana iklim 'tidak cukup'

Sungai kering di Kenya
Keterangan gambar, Pemanasan global mengancam berbagai masyarakat dunia yang tidak berdaya
Telah diterbitkan

Negara-negara berkembang dan badan-badan bantuan mengecam janji dana terbaru dari negara-negara kaya untuk menangani pemanasan global.

Para pemimpin Uni Eropa mengakhiri pertemuan puncak di Brussels dengan menyepakati dana sebesar US$10,6 miliar dalam waktu tiga tahun untuk membantu negara-negara miskin menangani dampak perubahan iklim.

Dana bantuan dari Uni Eropa ini adalah bagian dari paket "awal cepat" global yang sedang diperdebatkan dalam KTT perubahan iklim di Kopenhagen.

Tetapi para pemimimpin negara-negara yang lebih miskin menyebut jumlah itu tidak cukup.

Dana itu merupakan sumbangan Uni Eropa terhadap paket yang diajukan sebesar US$10 miliar per tahun yang dimaksudkan untuk membantu Afrika, negara-negara pulau dan berbagai negara rentan lain untuk menghadapi perubahan iklim mulai bulan Januari mendatang sampai tahun 2012.

Dana itu dapat membantu mereka mendorong upaya pertahanan daerah pantai, menangani kekeringan, mencegah penebangan hutan dan menggunakan lebih banyak energi matahari dan angin.

Patung es di London
Keterangan gambar, Para aktivis iklim mencoba menekan para pemimpin dunia yang menghadiri konferensi Kopenhagen

Berbagai kelompok yang mewakili negara-negara miskin yang memiliki risiko tertinggi perubahan iklim juga ikut mendesak agar ada komitmen keuangan yang lebih besar.

Lumumba Stanislaus-Kaw Di-Aping yang mewakili G77, 77 negara berkembang dan Cina dalam konferensi di Kopenhagen menyebut janji dana Uni Eropa itu "tidak besar".

"Saya yakin [dana] itu bukan hanya tidak besar, tetapi jumlah itu menimbulkan ketidakpercayaan yang lebih besar terhadap niat para pemimpin Eropa mengenai perubahan iklim," ujarnya, seperti dikutip kantor berita AFP.

Bruno Tseliso Sekoli, ketua LDC, organisasi negara-negara tertinggal, mengatakan kepada BBC bahwa janji dana Uni Eropa itu "tidak cukup untuk memenuhi syarat LDC".

"Segala dana yang akan dikucurkan kepada negara-negara berkembang akan disambut baik tetapi jumlah ini sangat, sangat kecil," katanya.

Dessima Williams, ketua Aliansi Negara-negara Pulau Kecil (Aosis) mengatakan jumlah total bagi seluruh dunia yang ditawarkan di Kopenhagen juga tidak cukup.

"Kami baru saja mengadakan pertemuan negara-negara Persemakmuran di Trinidad, dimana angka US$ 10 miliar tidak cukup," katanya.

"Kita tidak bisa melakukan pembangunan berkesinambungan, seperti melakukan transformasi energi, dengan uang sejumlah kecil itu," tambahnya.

Sebagian badan bantuan mengatakan janji dana Uni Eropa itu sudah termasuk dana dalam anggaran yang sudah ada.

Perdana Menteri Swedia Fredrik Reinfeldt, yang saat ini memegang giliran menjadi Presiden Uni Eropa, mengakui bahwa janji dana itu merupakan "kombinasi dana lama dan baru".