Abu Dhabi talangi Dubai

Dubai mengumumkan telah menerima bantuan talangan US$ 10 miliar dari salah satu tetangganya, Abu Dhabi untuk melunasi hutang-hutangnya.
Dubai akan menggunakan US$ 4,1 miliar dari dana itu untuk menyelamatkan perusahaan investasi milik pemerintah, Dubai World.
Sayap bisnis pengembang properti milik perusahaan tersebut Nakheel memerlukan uang tersebut membayar para investor surat obligasi yang jatuh tempo hari Senin.
Dubai sangat terpukul oleh kelesuan ekonomi global.
Kabar mengenai pelunasan hutang memperkuat pasar saham di Uni Emirat Arab. Indeks saham utama Dubai menguat 10%, sedangkan indeks saham Abu Dhabi lebih dari 7%.
Kabar mengenai perkembangan ini memperkuat nilai mata uang euro dan poundsterling. Kedua matauang bergejolak dalam beberapa pekan terakhir akibat perkembangan kabar seputar hutang Dubai.
Namun, pimpinan pemeringkat pemerintah kawasan Timur Tengah pada Standard and Poor's, Farouk Soussa, mengatakan pemberitan talangan ini memunculkan pertanyaan mengenai kebijakan pemerintah di Dubai.
"[Perkembangan] ini positif dari segi hutang dilunasi, ini positif dari segi dukungan Abu Dhabi, tapi saya yakin pertanyaan yang membayangi masalah ini sebenarnya koherensi kebijakan," kata Soussa.
'Memenuhi kewajiban'
Pembayaran utang yang jatuh tempo pada hari Senin adalah surat hutang Islami atau sukuk. Surat berharga ini dirancang mengikuti hukum Islam yang melarang pemberian bunga.

Kekhawatiran sempat berkembang bahwa Nakheel tidak akan sanggup melunasi surat utang ketika jatuh tempo tiba dan kalangan analis menyatakan pemberian talangan oleh Abu Dhabi mengejutkan.
Dubai, yang juga anggota Uni Emirat Arab, sudah pernah membantu negara tetangganya tersebut. Hubungan kedua negara memiliki hubungan akrab di lingkungan Uni Emirat Arab yang beranggotakan tujuh negara. Keluarga yang berkuasa di sana berasal dari satu suku.
Namun, berbeda dengan Dubai, yang sebagian besar ekonominya bertumpu pada sektor jasa, Abu Dhabi memiliki cadangan minyak yang cukup besar.
Pada 25 November, pemerintah Dubai menyatakan akan meminta para krediturnya agar membekukan pelunasan utang US$ 26 miliar Dubai World.
Dalam pernyataan hari Senin, bos Komite Fiskal Tertinggi Dubai Sheikh Ahmed bin Saaed al-Maktoum mengatakan: "Pemerintah Abu Dhabi telah setuju memberikan dana kepada Dubai Financial Support Fund yang akan digunakan untuk memenuhi serangkaian kewajiban Dubai yang akan jatuh tempo."
Dia menambahkan: "Kami di sini untuk menenteramkan investor, kreditur keuangan dan niaga, karyawan dan warga kami bahwa pemerintah akan selalu bertindak mengikuti prinsip pasar dan praktik bisnis yang diterima secara internasional."
Dia juga mengumumkan penerapan undang-undang kebangkrutan baru.
"Undang-undang ini akan tersedia, jika Dubai World dan anak-anak perusahaannya tidak sanggup mewujudkan restrukturisasi kewajiban-kewajibannya dengan cara bisa diterima," tambahnya.
Seperti dikutip kantor berita Reuters, John Sfakianakis, ekonom kepala pada Banque Saudi Fransi-Credit Agricole di Riyadh menyebut bantuan keuangan ini "bantuan sangat penting dan perlu".
"Itu akan mendatangkan keyakinan besar, bahwa Abu Dhabi pada dasarnya menanggung hutang," kata Sfakianakis.
"Perlu waktu sebelum implikasi [bantuan] terlihat. Saya rasangat meragukan uang sebanyak ini tanpa syarat," tambah dia.
Sementara itu, Fahd Iqbal, strategis kawasan Teluk pada lembaga keuangan EFG-Hermes, mengatakan bahwa perkembangan terbaru ini tidak serta merta mengubah "prospek jangan lebih panjang", dan perusahaan bank investasinya masih menyimpan beberapa kekhawatiran berkaitan dengan "penurunan kepercayaan" yang dialami Dubai, lapor kantor berita Reuters.





























