Dua lagi gereja diserang di Malaysia

Bom minyak tanah dilempar ke arah dua gereja di Malaysia Minggu dini hari, dua serangan terakhir dalam serangkain aksi kekerasan terhadap rumah ibadah kaum kristiani di negara itu.
Diduga ini merupakan kelanjutan dari putusan pengadilan tinggi setempat, terkait siapa yang dianggap berhak menggunakan kata 'Allah' untuk melukiskan Tuhan dalam tulisan kitab suci.
Ratusan penganut Kristen yang gerejanya dilempari bom berkumpul di ruang serbaguna sementara untuk misa hari Minggu seraya menyerukan persatuan nasional serta ajakan mengakhiri kekerasan.
Sebuah bom molotov rakitan dilempar ke Gereja All Saints di Taiping di negara bagian Perak, kata kepala polisi setempat Zulkifli Abdullah.
Kepada Associated Press dia mengatakan bangunan gereja tidak mengalami kerusakan namun ditemukan tanda bekas terbakar di salah satu dindingnya.
Sebuah jerigen minyak tanah dengan sumbu yang belum disulut juga ditemukan Minggu dini hari di sekitar lingkungan Geraja Katolik St. Louis, juga di Taiping, kata Pastor David Lourdes. Menurutnya, penemuan itu menunjukkan adanya serangan yang gagal.
Pemerintah banding
Sudah empat gereja yang diserang dengan bom molotov pada Jumat dan Sabtu lalu. Semua gereja kecuali Metro Tabernacle, yang memindahkan misanya, mengalami sedikit kerusakan namun tidak ada korban. Tiga gereja lain tetap melakukan misa hari Minggu seperti biasa.
Situasi ini menyulut ketegangan antar Muslim dan Kristen yang belum pernah terjadi sebelumnya di Malaysia.
Dua pihak bersitegang terkait putusan Majelis Tinggi pada tanggal 31 Desember yang membatalkan keputusan pemerintah yang melarang kalangan non Muslim menggunakan kata 'Allah' dalam ibadah agama maupun dalam publikasi mereka.
Majelis mengabulkan gugatan yang diajukan oleh Gereja Katolik Roma Malaysia dimana publikasi yang mereka terbitkan, the Herald, menggunakan kata 'Allah' dalam edisi bahasa melayunya.
Redaktur surat kabar Katholik yang terbit setiap minggu itu, Pastor Lawrence Andrew, mengatakan kata Allah sudah digunakan sejak dahulu.
Dia mengaku tidak mengerti mengapa isu ini menjadi kontroversial.
"Kami memang kurang mengerti mengapa beberapa orang di kerajaan (pemerintah) dan sebagian tokoh-tokoh Islam mengatakan kami baru mulai menggunakan. Memang kami dari dulu sudah menggunakannya. Dan kami menggunakan buku-buku ibadah dan Alkitab dari Indonesia, karena kita menggunakan bahasa yang sama," kata Pastor Andrew.
Dia mengakui bahwa banyak umatnya yang khawatir atas insiden serangan ini, walaupun sebagian besar dari mereka tetap datang menghadiri misa hari Minggu ini.
Pemerintah mengajukan banding atas putusan itu. Sekitar sembilan persen warga dari 28 juta penduduk Malaysia beragama Kristen kebanyakan dari etnis Cina atau India.
Sementara kelompok Muslim merupakan sekitar 60 persen dari populasi tersebut sebagian besar merupakan etnis Melayu.





























