Korea Utara akan pilih pemimpin partai

Partai Komunis Korea Utara akan mengadakan pertemuan, menurut media pemerintah setempat.
Pertemuan bulan September itu untuk memilih para pemimpin baru Partai Pekerja Korea (WPK), lapor kantor berita Korea utara.
Para pengamat mengatakan langkah itu kemungkinan menandai transisi pemimpin di negara itu.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-il diduga terganggu kesehatannya dan menyiapkan salah seorang putranya, Kim Jong-un untuk menggantinya.
"Kita menghadapi revolusi suci untuk mengembangkan WPK...menjadi partai jaya yang abadi milik Kim Il-sung dan meningkatkan fungsinya untuk kejayaan negara sebagai bangsa sosialis yang sejahtera dan besar," kata laporan itu.
Peranan meningkat
Kim Jong-il mengambil alih kepemimpinan dari ayahnya, pendiri Korea Utara Kim Il-sung, setelah ia meninggal tahun 1994.
Ia diduga mengalami gangguan kesehatan setelah dicurigai mengalami stroke tahun 2008. Para pengamat mengatakan konperensi itu diselenggarakan untuk mengangkat status putra ketiganya, Kim Jong-un yang menjalani pendidikan di Swiss.
Sebelumnya, direktur badan intelijen Korea Selatan mengatakan Kim Jong-un yang berusia 27 tahun itu telah memegang peranan sebagai pembuat kebijakan dan sering menemani ayahnya dalam berbagai kunjungan.
Wartawan BBC John Sudworth di Seoul mengatakan Kim Jong-il sendiri memulai peranan resmi untuk mengganti ayahnya dengan menduduki posisi senior dalam partai dalam pertemuan tahun 1980.
Ketegangan antar Korea
Pengumuman itu dikeluarkan sehari setelah peringatan ke 60 awal dimulai perang Korea Utara dan Selatan yang berlangsung selama tiga tahun.
Sebelumnya, Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada Korea Utara untuk tidak "mengambil tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan di kawasan," di tengah kekhwatiran bahwa Pyongyang kemungkinan menyiapkan uji coba peluru kendali lagi.
Departemen luar negeri Amerika mengatakan mereka sadar bahwa Korea Utara telah mengeluarkan larangan selama sembilan hari untuk perkapalan di lepas pantai barat negara itu.
Ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan meningkat menyusul tenggelamnya kapal Korea Selatan tanggal 26 Maret lalu.
Penyidik internasional menyimpulkan kapal itu ditenggelamkan oleh torpedo yang ditembakkan dari kapal selam Korea Utara.





























