Profil: Benigno "Noynoy" Aquino III

Benigno ''Noynoy'' Aquino
Keterangan gambar, Benigno ''Noynoy'' Aquino, presiden kelimabelas Republik FIlipina
Telah diterbitkan

Benigno "Noynoy" Aquino III mewarisi nama yang tepat untuk memimpin Filipina.

Nasib mendiang ayahnya, Benigno "Ninoy" Aquino, menggugah bangsanya ketika dia dibunuh pada tahun 1983.

Ninoy Aquino hidup di pengasingan setelah melarikan diri dari rezim Ferdinand Marcos dan Imelda Marcos yang memberlakukan keadaan darurat di Filipina.

Bertekad untuk memunculkan demokrasi di tanah airnya, dia terbang pulang ke Manila. Namun, dia ditembak mati ketika mendarat.

Puluhan ribu orang menyatakan ikut berduka cita dan berikutnya kematian tragis sang politisi gerakan pro-demokrasi yang ditanggapi Presiden Marcos dengan menggelar pemilihan dadakan pada Februari 1986.

Ibu Noynoy cilik, Corazon ''Cory'' Aquino menjadi penerus perjuangan suaminya.

Si ''ibu rumah tangga'' menerima peran yang dialihkan kepada dirinya sebagai janda dan berikrar untuk meneruskan perjuangan suaminya.

Keluarga Marcos menyatakan menang dalam pemilihan dan ini memicu revolusi People Power (Kekuatan Rakyat) pertama yang melawan kekuasaan mereka.

Jutaan warga Filipina yang berkumpul di jalan-jalan mereka mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamatkan demokrasi.

Cory Aquino kemudian menjadi presiden, dan bertahan dari serentetan upaya kudeta, termasuk yang hampir merenggut nyawa Noynoy muda ketika baku tembak pecah di kompleks istana kepresidenan Malacanang pada tahun 1987.

Salah satu dari lima peluru yang menerjang tubuhnya masih mengeram di lehernya.

Karir Kongres

Dibesarkan di bawah bayang-bayang pasangan orang tua yang begitu dikagumi, bersama empat saudara perempuan, termasuk Kris, seorang bintang televisi terkemuka Filipina, Noynoy sering menjadi sosok pendiam dalam keluarganya.

Dia meraih gelar akademis di bidang ekonomi dari perguruan tinggi elit Ateneo di Manila sebelum bergabung dengan keluarganya di tempat pengasingan mereka di Boston.

Ketika kembali ke Filipina setelah tahun 1983, dia bekerja di beberapa perusahaan, termasuk pabrik pengolahan gula Cojuangco di provinsi asalnya, Tarlac.

Dia terpilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1988, dan berhasil terpilih kembali pada tahun 2001 dan 2004. Pada Juni 2007 dia merebut kursi di Senat.

Dia digambarkan kurang kharismatik, dan kinerjanya tidak menonjol dalam 12 tahun sebagai anggota Kongres dan Senat. Namun, dia memang memperkuat beberapa komite dan memahami masalah kepemerintahan.

Pada tahun 2009, ibunya meninggal akibat kanker dan kembali puluhan ribu warga Filipina menujunkkan kecintaan mereka kepada keluarga Aquino.

Banyak warga Filipina masih tetap melihat namanya melambangkan - prinsip sosok yang bersih, jujur, dan memegang teguh demokrasi.

Setelah menang besar di pemilihan bulan Mei, dia kini memegang kendali atas negara yang bergulat dengan korupsi menyebar, kemiskinan mewabah dan prasarana yang uzur.

Dia berjanji untuk mendirikan komisi untuk menyelidiki tuduhan korupsi yang dialamatkan ke pendahulunya, Gloria Arroyo.

Namun, dia juga berusaha mengecilkan berbagai harapan yang ditimpakan ke pundaknya oleh banyak warga Filipina. Dia memperingatkan seorang presiden harus sehebat "gabungan antara Superman dan Einstein" untuk bisa segera memecahkan masalah-masalah yang melilit Filipina.

Bagaimana pun, di kursi presiden, Noynoy Aquino, 51 tahun, dia harus menghadapi beban jabatan, konflik kepentingan, dan mungkin persekongkolan untuk menghadang dia dari tugas menjalankan negara.

Nama besar keluarga ikut mengantar Aquino ke kursi presiden Filipina. Pengamat dan warga Filipina akan terus mencermati arah dan langkahnya.