Pengungsi Merapi menjadi 100.000 lebih

- Penulis, Sri Lestari
- Peranan, BBC Indonesia
- Telah diterbitkan
Dua letusan besar Gunung Merapi dalam dua hari belakangan ini meningkatkan jumlah pengungsi hingga 100.000 lebih dan dengan perluasan radius bahaya menjadi 20 kilometer.
Letusan besar juga menyebabkan jarak aman diperluas sehingga mengharuskan sebagian pengungsi berpindah beberapa kali, tanpa kepastian berapa lama mereka harus berada di pengungsian.
Salah seorang dari mereka adalah Jumiwati yang berbicara dengan BBC Indonesia.
"Pertama saya mengungsi di Manisrenggo, baru nginap satu malam pindah lagi ke Taskombang karena ada letusan lagi, terus karena radiusnya diperluas saya sekarang di Piyungan," kata Ibu Jumiwati.
Sekarang Jumiwati mengungsi bersama 60 lebih warga lainnya di salah satu masjid di Piyungan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.
Jumiwati mengatakan di tempat pengungsian dia memerlukan bantuan kebutuhan sehari-hari seperti pakaian, makanan dan tempat tidur.
"Kebutuhan sehari-hari itu kan banyak sekali, saya nggak tahu nasib saya bagaimana," kata Jumiwati.
Itulah sebabnya dia memilih mengirim kedua anaknya ke rumah adiknya jauh di Sragen, sedang dia bersama suami dan seluruh warga satu dukuh dan beberapa dukuh lain tetap di tempat pengungsian.
Jumiwati mendengar rumahnya di Kepuharjo sudah tidak bisa ditinggali lagi dan dia tidak tahu sampai kapan dia akan mengungsi.
Bosan
Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengakui masa pengungsian yang lama bisa membuat pengungsi bosan.
"Dengan kondisi Merapi yang sampai sekarang kita belum tahu akan berakhir, ada perasaan bosan, dan psiko sosial mereka juga terganggu," kata Sutopo kepada BBC.
Tetapi Hadi Sucipto dari lembaga sosial Care yang sering menangani pengungsi, antara lain ketika terjadi tsunami di Aceh berpendapat sebenarnya persiapan menghadapi letusan Gunung Merapi sudah baik, akan tetapi skala bencana tidak diperkirakan sebesar ini.
"Begitu terjadi letusan, jumlah pengungsi sepuluh kali lipat dari perkiraan sehingga banyak camp belum disiapkan, jadi sifatnya benar-benar emergency dan temporary" kata Hadi.





























