Pemungutan suara berakhir di Burma

Pemilu Birma
Keterangan gambar, Partai Suu Kyi menilai pemilu ini alat junta militer tetap berkuasa
Telah diterbitkan

Pemilihan umum yang berlangsung untuk pertama kali di Burma dalam 20 tahun terakhir, sudah berakhir.

Para jenderal yang memerintah mengatakan pemilu ini menandai peralihan ke pemerintahan sipil yang demokratis namun para pengecam mengatakan pemilu ini adalah penipuan.

Wartawan BBC yang tidak bisa kami sebutkan namanya karena alasan keamanan mengatakan, jalan-jalan di bekas ibukota Rangoon terlihat sepi sepanjang hari pemungutan suara.

Tempat tempat pemungutan suara dibuka dan ditutup tanpa ada kemeriahan.

"Ini adalah kali pertama rakyat di sini punya kesempatan memilih selama 20 tahun terakhir, tetapi tidak ada terasa kegairahan," tambah wartawan BBC yang berada di Rangoon.

Dia mengatakan seorang pria yang memilih pada pagi hari menjelaskan bahwa padanya bahwa tempat-tempat pemungutan suara hampir kosong.

"Pria itu membandingkan pemilu kali ini dengan tahun 1990. Menurut dia pada waktu itu masyarakat tumpah ruah, bergairah dan ingin menggunakan hak pilih mereka. Tetapi kali ini tidak, sangat berbeda suasananya," tambah wartawan BBC.

Kemungkinan suasana itu, menurut wartawan BBC, karena partai oposisi utama tidak ada dalam kertas suara.

Sepi tanpa Suu Kyi

Liga Nasional bagi Demokrasi, partai oposisi utama pimpinan pemenang Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi memboikot pemungutan suara ini.

LND mengecam pelaksanaan pemilu ini sebagai penipuan, hanya alat bagi pemerintahan militer untuk tetap berkuasa dengan berpura-pura memilih pemerintahan sipil.

Banyak wakil-wakil pemerintah asing yang ditempatkan di Burma setuju. Dutabesar Inggris di Rangoon, Andrew Heyn mengatakan pemilu ini sebagai sebuah kesempatan yang disia-siakan.

"Tidak ada dari pemilu ini yang memberikan keamanan atau bahkan optimisme bahwa akan ada perubahan. Ini sebenarnya hanya ganti botol saja, sementara anggur di dalam botol itu tetap sama," jelas dutabesar Inggris untuk Burma.

Meski ada kecaman bahwa pemilu ini cacat, beberapa partai-partai pro-demokrasi dan wakil-wakil dari etnis minoritas di Burma ikut ambil bagian.

Menurut wartawan BBC mungkin mereka berpartisipasi dengan harapan pemilu ini bisa menjadi awal dari proses perubahan yang berjalan lambat.