Warga Kristen diminta tinggalkan Irak

Seorang tokoh senior Kristen Irak meminta kepada kaum kristen di negara itu untuk meninggalkan Irak, setelah seorang lelaki bersenjata menyerang sebuah gereja di Baghdad.
Uskup besar Athanasios Dawood, yang tinggal di Inggris, akan menyampaikan permintaannya ini dalam sebuah khotbah di Gereja Ortodoks Suriah di London.
Uskup besar ini juga mengkritik lemahnya pengamanan bagi warga Kristen Irak.
Setidaknya 52 orang meninggal saat pasukan keamanan menyerbu sebuah gereja Katolik di Baghdad untuk membebaskan lusinan sandera.
Sebelumnya sejumlah pria bersenjata memasuki gereja Our Lady of Salvation di distrik Karada ketika misa berlangsung Minggu 31 Oktober lalu, dan menawan sejumlah orang hingga berjam-jam.
Milisi dengan telepon seluler menghubungi otoritas keamanan, mendesak pembebasan para tawanan al-Qaeda dan juga sejumlah perempuan Muslim yang disebut-sebut dipaksa tinggal di Gereja Koptik di Mesir.
Setelah negosiasi gagal, pasukan keamanan Irak menyerbu bangunan gereja, sebelum pria bersenjata dilaporkan melempar granat dan memicu rompi bom bunuh diri.
Gereja ubah sikap
Pada Minggu ini, Uskup Dawood akan meminta semua warga Kristen untuk meninggalkan Irak sekarang karena al-Qaeda telah memperingatkan akan melakukan penyerangan lebih banyak.
Uskup ini juga meminta pemerintahan Inggris menyetujui permohonan suaka warga Kristen Irak.
Warga Kristen Irak - kebanyakan etnis Assyria - sudah menetap di Irak sejak abad pertama, tetapi pasca tergulingnya Saddam Hussein, mereka menjadi terisolasi dan pemerintahan Baghdad dianggap tidak berniat atau tidak mampu untuk menjaga mereka.
Serangkaian bom menyerang banyak gereja yang menyebabkan kaum Kristen menyelamatkan diri ke negara-negara tetangga.
Para pemimpin gereja di masa lalu meminta pada penganutnya untuk tetap tinggal di Irak dan memperkuat komunitas mereka.
Tetapi karena tidak ada jaminan keamanan, ada tanda kalau kebijakan itu akan berubah.





























