AS Indonesia umumkan kerjasama
- Penulis, Roger Hardy
- Peranan, Analis Timur Tengah
- Telah diterbitkan
Kerjasama

Amerika Serikat dan Indonesia akan memperluas kerjasama dalam bidang ekonomi, keamanan dan perubahan iklim.
Presiden kedua negara mengumumkan hal ini dalam konferensi pers bersama di istana negara Jakarta, Selasa (9/11).
Obama mengatakan Amerika Serikat dan Indonesia akan memperluas hubungan perdagangan dan meningkatkan kemakmuran.
Dia juga mengkritik pemilu baru-baru ini di Birma sebagai pemilu yang tidak bebas dan adil serta menyerukan pembebasan pemimpin pro demokrasi Aung San Suu Kyi yang dikenai tahanan rumah.
Hari Rabu (10/11) menurut rencana Obama juga akan memberikan pidato di mesjid terbesar di Asia Tenggara, mesjid Istiqlal.
Namun begitu, Gedung Putih mengatakan presiden kemungkinan harus mempersingkat kunjungannya beberapa jam karena khawatir debu Gunung Merapi bisa menggangu penerbangan.
Menurut para pengamat mengatakan kalau memang acara itu jadi berlangsung, ini merupakan pidato paling penting Obama kepada dunia Muslim sejak dia berpidato di Kairo, Juni 2009.
Pengamat masalah Islam, Roger Hardy, mengatakan pidatonya di Kairo mendapat sambutan hangat karena Obama menawarkan "awal baru" berdasarkan "kepentingan bersama dan saling menghormati".
Berbicara di Jakarta, Obama mengatakan dia bekerja keras memperbaiki hubungan dengan masyarakat Muslim, namun memperingatkan bahwa beberapa "kesalahpahaman dan ketidakpercayaan" kemungkinan besar masih tetap ada.
Analisis: Obama di dunia Islam

Dalam pidato di Universitas Kairo pada bulan Juni 2009, Presiden Barack Obama menawarkan babak baru dalam hubungan dengan dunia Islam, berdasarkan rasa saling percaya dan saling menghormati.
Pidato Obama mendapat sambutan hangat dan reputasinya naik.
Tetapi sejak pidato itu keadaan banyak berubah. Berbagai jajak pendapat belakangan ini menunjukkan bahwa di sebagian dunia Islam, kredibilitas Obama turun drastis.
Dalam kunjungannya di Indonesia Presiden Obama mendapat kesempatan baru untuk mengangkat lagi tema-tema yang dia lontarkan di Kairo.
Menurut penasehat Presiden Obama, Ben Rhodes, kunjungan ini akan menggarisbawahi hubungan erat antara Amerika Serikat dan Indonesia dalam berbagai aspek seperti perubahan iklim dan kontra-terorisme.
Selain itu kunjungan ini akan menegaskan hubungan pribadi yang erat antara Presiden Obama dan negara yang pernah dia tinggali semasa kecil.
Dalam kuliah umum di Universitas Indonesia, Presiden Obama akan menekankan peran Indonesia sebagai negara demokrasi baru dan tradisi Indonesia yang toleran dan menghargai pluralisme.

Rhodes mengakui bahwa baru sebagian janji yang diucapkan Presiden Obama di Kairo terlaksana.
Menurut Rhodes, Obama telah menepati janjinya untuk menarik pasukan Amerika dari Irak selambat-lambatnya pada bulan Agustus 2010.
Rhodes juga mengatakan bahwa Presiden Obama sudah berhasil dalam mengurangi kekuatan Al-Qaida.
Namun mengenai proses perdamaian Timur Tengah, Rhodes mengakui bahwa terjadi kegagalan beberapa kali, tetapi pemerintah Obama terus mengajak pihak-pihak yang bertikai untuk berunding.
Mengenai Iran, Rhodes mengatakan pemerintah Obama mengatakan telah berhasil menggalang koalisi berbagai negara yang mendukung sanksi PBB atas Iran.
Karena itu menurut Rhodes salah Iran sendiri apabila negara itu tidak melaksanakan kewajibannya.
Tetapi menurut para pengamat di Washington, pemerintah Obama menghadapi tantangan berat dalam meyakinkan orang-orang yang ragu akan kebijakannya.
Dalam buku yang ditulis wartawan terkemuka Bob Woodward, pemerintah Obama digambarkan ragu-ragu mengenai bagaimana harus bersikap soal Afghanistan.
Sikap ini menurunkan reputasi pemerintah Obama.

Buku Bob Woodward yang berjudul Obama's Wars menggambarkan pemerintahan yang terpecah mengenai bagaimana harus menanggapi permintaan Angkatan Bersenjata Amerika untuk menambah pasukan di Afghanistan.
Dalam buku itu Obama digambarkan gampang menyerah pada tekanan, dan tidak yakin pada pilihan kebijakannya.
Sejak masa pemerintahan George Bush yunior yang kedua, di Amerika banyak terjadi perdebatan tentang bagaimana negara itu bisa memenangkan hati dunia Islam.
Ketika Amerika sedang menghadapi masalah besar dalam perang Irak, para pejabat Amerika mulai berbicara tentang perlunya perang ideologi menghadapi ekstremisme global.
Agar Amerika bisa menang dalam perang ideologi ini, arus utama umat Islam dunia harus menentang golongan Islam radikal.
Banya pengamat melihat bahwa strategi Presiden Obama tidak banyak berbeda dengan strategi pendahulunya, Presiden George W Bush.
Operasi rahasia di Afghanistan yang dimulai pada zaman Presiden Bush, semakin ditingkatkan oleh Presiden Obama, seperti diungkap dalam buku Bob Woodward.
Persoalan yang menyangkut status tawanan di Guantanamo dan mengenai apakah mereka seharusnya diadili, sampai sekarang belum selesai.

Serangan dengan menggunakan pesawat tak berawak Predator di Pakistan juga semakin intensif.
Para pengkririk kebijakan Presiden Obama baik dari golongan kiri maupun golongan kanan berpendapat bahwa Presiden Obama kurang berani berbicara tentang masalah tata-pemerintahan dan hak asasi manusia di dunia Islam.
Dalam jurnal Foreign Policy, Ellen Laipson yang pernah bekerja di Dewan Keamanan Nasional Amerika mengatakan bahwa Presiden Obama harus memikirkan ulang kebijakannya di dunia Islam.
Laipson berpendapat bahwa Obama seharusnyamemperkuat institusi publik, memajukan praktek dan nilai-nilai demokrasi, dan berani bersuara bila terjadi ketidakadilan, meskipun pelakunya adalah negara sekutu Amerika.
Dengan mengulurkan tali persahabatan di Kairo dan Jakarta, Presiden Obama menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya menempatkan penyelesaian pada kekuatan militer.
Dia percaya bahwa persoalan global memerlukan penyelesaian "soft-power", tidak hanya serangan Predator.
Tetapi dua tahun setelah dia terpilih, banyak kalangan di dunia Islam dan dunia pada umumnya, belum yakin bahwa kebijakan Obama akan berhasil.





























