Laba maskapai penerbangan akan turun

Sumber gambar, BBC World Service
Maskapai penerbangan di dunia akan menurun labanya hampir separuhnya karena kenaikan harga minyak baru-baru ini, kata International Air Transport Association (Iata).
Laba bersih untuk industri ini akan mencapai sekitar US$8,6 miliar dollar pada tahun 2011 turun dari US$16 miliar pada tahun 2010.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau Iata sebelumnya memperkirakan keungungan tahun ini US$9,1 miliar.
Menurut Iata kenaikan harga minyak merupakan ancaman terbesar terhadap pendapatan maskapai penerbangan tahun ini.
Pekan lalu, minyak mentah jenis Brent menyentuh angka tertinggi dalam dua setengah tahun yakni US$119 per barel.
Pengamat prihatin mengenai meluasnya dampak pasokan minyak karena pergolakan di Libya dan Timur Tengah yang masih berlanjut.
"Jika pergolakan menyebar, ketegangan Timur Tengah mungkin mencapai titik dimana perang meletus dan akan memicu kenaikan besar," ujar Ryoma Furumi dari Newedge Japan.
Laba menurun

Sumber gambar, Reuters
Iata menyatakan meskipun jumlah penumpang akan naik 5,6% tahun 2011 dan volume transportasi barang akan naik lebih dari 6%, tingginya harga minyak mengurangi besarnya keuntungan.
Harga minyak mencapai 40% biaya operasi maskapai penerbangan dan sejauh ini sejumlah perusahaan masih enggan membebankan biaya minyak itu kepada konsumen, kata Iata.
harga minyak telah berlipat ganda sejak tahun 2009 namun harga rata-rata selama periode yang sama naik 20%.
Direktur Jenderal Iata Giovanni Bisignani memperingatkan sementara naiknya harga tiket dan biaya minyak telah menekan kenaikan tiket namun bertambahnya harganya minyak akan memiliki pengaruh besar terhadap maskapai penerbangan.
"Sekarang minyak memiliki resiko terbesar. Jika kenaikannya menghambat ekspansi global, kesluruhannya akan cepat memburuk," katanya,
Asia Pasifik memperkirakan akan lebih baik dari kawasan lain karena banyak negara di sini mengalami pertumbuhan ekonomi stabil meskipun laba akan tetap juga tertekan.





























