Imigran pencari suaka rusuh di Pulau Christmas

Lokasi Pulau Christmas
Keterangan gambar, Pencari suaka di Australia mencapai 6.500 orang
Telah diterbitkan

Polisi Australia menembakkan gas air mata untuk meredakan aksi demonstrasi para pencari suaka di pusat penampungan Pulau Christmas, yang sudah berlangsung tiga hari.

Polisi diterbangkan dari kota terdekat Kamis (17/03) malam setelah lebih dari 200 tahanan membakar bangunan, menghancurkan perabot dan melempari petugas keamanan Australia.

Mereka mengaku frustrasi terhadap jalannya proses aplikasi suaka, namun menurut Menteri Luar Negeri Australia Kevin Rudd, tidak akan ada pengecualian aturan.

Di Pulau Christmas, yang terletak di Samudera Hindia, terdapat sekitar 2.000 orang imigran, sebagian besar berasal dari Timur Tengah, Sri Lanka dan Afghanistan yang mencoba memasuki Australia.

Menurut laporan kantor berita AP dua bangunan administrasi beserta tujuh tenda akomodasi yang disediakan dibakar para pencari suaka.

Deputi Komisioner Polisi Federal Australia Steve Lancaster mengatakan bahwa sudah sekitar sepekan para pencari suaka menggelar aksi demo karena kesal pada lambatnya proses aplikasi suaka.

"Sekelompok kecil tahanan mengisyaratkan bahwa akan terus melakukan aksi kekerasan hingga visa diberikan,"kata Bowen.

Pemerintah merespon aksi tersebut dengan mempercepat rencana pemindahan sekitar 2.500 tahanan di Pulau Christmas ke pusat penampungan di daratan Australia untuk mengurangi kepadatan tahanan serta dengan melibatkan petugas polisi.

"Ini situasi yang sangat rawan dan serius," kata Bowen.

Komisioner HAM Australia Catherine Branson mengaku khawatir terhadap penundaan proses aplikasi suaka sehingga sebagian besar dari sekitar 6.500 pencari suaka menunggu hingga lebih dari enam bulan.

Ribuan pencari suaka mempertaruhkan nyawa mereka dengan berlayar di laut lepas tanpa peralatan yang layak demi mencapai Australia setiap tahun.

Sebagian pencari suaka tewas dalam perjalanan akibat keganasan gelombang di Samudera Hindia.