Afghan: protes pembakaran Qur'an meluas

Demonstran membakar boneka Obama
Keterangan gambar, Para pengunjuk rasa di Jalalabad membakar boneka Presiden Obama
Telah diterbitkan

Ratusan pengunjuk rasa berpawai di jalan-jalan kota Kandahar dan Jalalabad di Afghanistan dalam protes baru terhadap pembakaran Qur'an di AS bulan lalu.

Protes baru ini terjadi setelah 14 orang, termasuk staf PBB, terbunuh dalam tindak kekerasan menyusul protes serupa hari Jumat.

Presiden AS Barack Obama menggambarkan pembunuhan itu sebagai tindakan "tak dapat diterima" dan pembakaran Qur'an sebagai "tidak toleran dan tak beralasan".

Sepuluh orang tewas menyusul protes di Kandahar hari Sabtu. Puluhan lainnya luka-luka.

Protes meluas

Pada hari Minggu para demonstran di Kota Kandahar --kota kelahiran Taliban-- berpawai ke kantor besar PBB. Ada juga berbagai laporan mengenai protes kecil di dua distrik lain di Provinsi Kandahar.

Aksi protes sekarang menjalar ke Jalalabad, di sebelah timur, tempat ratusan pengunjuk rasa secara damai memblok jalan utama selama tiga jam hari Minggu.

Massa meneriakkan agar tentara Amerika keluar dari Afghanistan dan membakar boneka Obama, kata jurufoto Associated Press di lapangan.

Protes di Kandahar
Keterangan gambar, Protes hari Jumat di Kandahar; kepala misi PBB di Afghanistan menyalahkan pastur di Florida

Kepala misi PBB di Afghanistan Staffan de Mistura menyalahkan pastur Florida yang membakar Qur'an pada tanggal 20 Maret sebagai pemicu tindak kekerasan hari Jumat di kota Mazar-e-Sharif.

"Saya kira kita tidak bisa menyalahkan orang Afghanistan," kata de Mistura. "Kita harus menyalahkan orang yang menjadi berita --orang yang membakar Qur'an. Kebebasan berbicara tidak berarti kebebasan menyinggung kebudayaan, agama, adat-istiadat."

PBB menarik stafnya ke Kabul sementara kantornya di Mazar-e-Sharif dibangun, kata de Mistura, namun tidak akan ada evakuasi.

De Mistura menekankan serangan hari Jumat "tidak boleh menghentikan kehadiran PBB, aktivitasnya di negara ini pada saat-saat sulit dan genting sekarang ini."