TEST: Ribuan hadiri pemakaman di Bahrain

Ribuan orang menghadiri pemakaman para korban tewas dalam penumpasan aksi protes di Bahrain hari Kamis (17/2).
Para pelayat mengibarkan spanduk dan meneriakkan slogan-slogan antipemerintah. Sebagian mengatakan mereka siap mati demi perubahan.
Empat orang terbunuh dan ratusan luka-luka ketika pasukan keamanan mengusir ratusan pengunjuk rasa dari Lapangan Mutiara.
Demonstrasi propemerintah juga akan dilaksanakan, beberapa jam setelah Bahrain melarang rapat umum.
Tank-tank dikerahkan di titik-titik strategis di jalan-jalan Manama, ibu kota Bahrain.
Tentara akan mengambil tindakan apa saja untuk menjaga keamanan, kata kementerian dalam negeri.
Penggunaan kekuatan militer dalam aksi-aksi protes belakangan ini membuat keluarga kerajaan Bahrain berhadapan langsung dengan para anggota masyarakat mayoritas Syiah yang, kata laporan wartawan BBC untuk Timur Tengah, Jon Leyne, yang berkantor di Kairo.
Dia mengatakan, sebagian besar pengunjuk rasa di negara itu adalah orang Syiah.
Sementara itu, ulama Bahrain yang paling senior, Sheikh Issa Qassem, menggambarkan serangan terhadap para demonstran sebagai "pembantaian", dan mengatakan pemerintah menutup pintu dialog, laporan kantor berita Reuters.
Keadilan dan kebebasan
Negara-negara Barat mendesak Bahrain agar menunjukkan sikap menahan diri dalam menangani para demonstran dan mengimbau supaya dilakukan refromasi yang nyata di negara kecil di Teluk Persia itu.
Pemakaman kedua pria itu, satu berusia 50-an dan yang satu lain 20-an, dilaksanakan di desa Sitra.
Keranda kedua jenazah dibalut dengan bendera merah-putih Bahrain dan diletakkan di atas mobil yang kemudian meluncur perlahan.
"Adili geng penjahat, adili," teriak massa. "Keadilan, kebebasan dan monarki konstitusional."
Aksi-aksi protes prodemokrasi akhir-akhir ini melanda sejumlah negara Arab, yang berakhir dengan penggulingan presiden Tunisia dan presiden Mesir.





























