Cina tangkap peluang di Afrika

Perdagangan Cina dengan negara-negara Afrika meningkat 10 kali lipat sejak tahun 2001, dan tahun lalu nilai perdagangan mencapai $107 milyar.
Selain meningkatnya perdagangan, bantuan finansial dan investasi langsung yang ditawarkan Cina menyebabkan perwakilan dari 50 negara Afrika begitu antusias untuk datang dalam konperensi yang juga melibatkan pemerintah Cina di Sharm el-Sheikh, Mesir.
Sejumlah pihak yang hadir termasuk produsen besar minyak dari Libia, Nigeria, dan Angola serta negara-negara kaya mineral di Afrika tengah, serta kepala negara yang dijauhi Barat seperti Robert Mugabe dari Zimbabwe dan Presiden Omar al-Bashir dari Sudan.
Tetapi apapun alasan mereka, para pemimpin Afrika memiliki alasan yang sama.
"Afrika perlu prasarana," kata Youssouf Ouedraogo, penasehat khusus presiden Bank Pembangunan Afrika.
Ouedraogo mengakui bahwa dengan imbalan minyak, gas dan mineral untuk mendukung perekonomian Cina, Beijing menyediakan dana tunai untuk proyek-proyek besar di Afrika.
"Kami perlu pelabuhan, jalan, listrik dan bandar udara guna membantu negara-negara miskin Afrika berkembang. Anda tidak dapat membangun tanpa dana."
Bantuan besar
Perdana Mentri Cina Wen Jiabao memberikan bantuan besar. Dalam tiga tahun terakhir, ia berjanji memberi $10 milyar bantuan baru dan 100 pembangkit listrik ramah lingkungan.

Tetapi sejumlah kritik menyebutkan bantuan besar Cina ke Afrika tidak membantu dalam upaya memerangi korupsi serta pemerintah yang tertata.
Bulan Oktober, satu perusahaan kecil Cina menanamkan modal $7 milyar di Guinea ditengah kecaman internasional atas junta militer di negara itu.
Bulan September lalu, tentara di Guinea melepaskan tembakan ke arah demonstran, menewaskan 150 orang.
Wen ditanya oleh seorang wartawan Barat apakah ia kawatir dengan kritikan itu.
"Sudah lama muncul kritikan bahwa Cina datang ke Afrika untuk mengeruk sumber daya alam Afrika dan melakukan neo-kolonialisme. Tuduhan itu, menurut saya tidak kuat.
"Siapa yang bertanya?" katanya. "Apakah negara-negara Afrika ataupun pihak Barat yang memperhatikan dengan kawatir?"

Seorang anggota parlemen Mesir Mustafa al-Gindi menganggap perdebatan itu adalah pergulatan antara Timur dan Barat untuk sumber daya di Afrika.
"Terjadi persaingan besar antara Timur dan Barat untuk Afrika. Apapun yang mereka katakan, faktanya adalah Cina datang ke Afrika tidak hanya dengan teknisi dan ilmuwan, namun juga dengan petani. Langkah itu adalah neo-kolonialisme," kata al-Gindi.
Dalam konperensi di Mesir, Cina mempertahankan kebijakan tidak turut campur dalam urusan dalam negeri di negara lain.
"Ini masalah uang," kata Wen, "atau pembangunan independen, tanpa ada persyaratan".
Perusahaan-perusahaan Barat banyak pula yang beroperasi di negara-negara Afrika dengan pemerintahan tangan besi.
Wen Jiabao menekankan perusahaan-perusahaan minyak Cina hanya mengambil sebagian dari perusahaan-perusahaan Amerika yang terlibat.
Di tengah langkah bank-bank Barat untuk mundur karena kesulitan keuangan, Cina dengan milyaran dolar cadangan devisa, yang memegang kartu.





























