Dari Inggris untuk Aceh

Panggung pertunjukan di salah satu gedung di kompleks Universitas Leeds di Inggris seolah seperti acara Malam Indonesia.
Aneka tarian dan sajian perkusi Indonesia dipentaskan. Pada layar di belakang panggung diproyeksikan foto Masjid Raya Banda Aceh dalam ukuran raksasa.
Di aula depan, aneka makanan kecil ala Indonesia disajikan.
Ini memang perhelatan yang sengaja digelar sebagai bentuk apresiasi kepada konsorsium 13 universitas di Inggris yang sejak 2005 memberikan bea siswa khusus kepada para dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry Banda Aceh.
"Disebut khusus karena bea siswa ini hanya untuk Aceh," jelas Yunardi, direktur Kantor Kerja Sama Internasional Unsyiah.
"Prakarsa ini berawal dari kenyataan bahwa tak kurang dari 300 dosen Unsyiah dan IAIN Ar Raniry meninggal dunia akibat tsunami," imbuh Yunardi.
Ia dan beberapa mahasiswa Indonesia, yang kebetulan tengah berkuliah di Leeds, kemudian membicarakan kemungkinan pemberian bea siswa khusus untuk Aceh ini.
Gandeng 13 universitas
Gayung ternyata bersambut. "Kami menyambut baik gagasan ini. Apalagi salah satu guru besar kami juga menjadi korban tsunami di Thailand," kata Michael Arthur, rektor Universitas Leeds.
Arthur berpendapat untuk bisa memberi kemanfaatan yang besar, perguruan tinggi lain di Inggris harus diajak agar jumlah penerima bea siswa bisa dimaksimalkan. "Universitas lain menyambut dengan antusias. Tak kurang dari 52 bea siswa akhirnya bisa kami berikan untuk para dosen Aceh," jelas Arthur.
Program yang dimulai pada 2005, beberapa bulan setelah tsunami Desember 2004, terbukti bisa mengatasi kurangnya dosen di Unsyiah dan IAIN Ar Raniry. "Kami ingin memiliki dosen dengan kualitas dan kuantitas seperti sebelum tsunami," kata Yunardi.
Melihat manfaat yang besar bagi pembangunan kembali Aceh ini, pemerintah Indonesia merasa perlu memberikan apresiasi. "Tahun ini program tersebut akan berakhir dan kami ingin mengucapkan terima kasih. Selain itu, kami juga ingin mengenalkan budaya Indonesia di Leeds," kata Yuri Thamrin, dubes Indonesia untuk Inggris.
Meski program bea siswa khusus ini segera berakhir, bukan berarti hubungan Aceh dengan 13 universitas di Inggris akan putus.
"Ini bukan akhir. Ini justru awal dari kerja sama lain di masa depan. Kami sudah menyiapkan kerja sama riset dan pertukaran mahasiswa atau dosen dengan dua perguruan tinggi di Aceh," papar Arthur.
Sepertinya model kerja sama provinsi di Indonesia dengan perguruan tinggi di luar negeri ini bisa ditiru oleh daerah-daerah lain.
Bencana alam, seperti yang melanda Aceh pada Desember 2004, tentunya bukan satu-satunya pintu masuk untuk program sejenis.





























