Migran terkena dampak resesi

Penelitian yang dibuat BBC World Service menunjukkan bahwa pekerja migran adalah pihak yang paling menderita dalam periode setelah resesi global.
Kemungkinan pekerja asing di negara-negara maju kehilangan pekerjaan lebih besar dibandingkan pekerja asal negara tersebut karena jurang pengangguran antara keduanya semakin melebar.
Disaat yang bersamaan, imigrasi ke negara maju juga berkurang dengan tajam.
Penelitian yang dibiayai BBC ini dilakukan oleh Institut Kebijakan Migrasi, MPI, satu lembaga independen di Washington.
Akan tetapi meski pekerja migran kehilangan pekerjaan, penurunan jumlah total pengiriman uang ke keluarga mereka di negara asal tahun lalu tidak sebesar yang diperkirakan dan diharapkan akan membaik.
Pengurangan migrasi
"Secara keseluruhan imigrasi ke negara-negara maju turun tajam akibat krisis ekonomi, sehingga terjadi penghentian pertumbuhan populasi orang asing yang besar tiga dekade berlangsung cepat," tulis laporan itu.
Akibat situasi ini terjadi penurunan cukup besar dalam imigrasi gelap. Jumlah pekerja asing yang tertangkap saat mencoba masuk ke Uni Eropa lewat laut secara ilegal turun lebih dari 40% dari tahun 2008 ke 2009 dan masih terus menurun.

Disaat bersamaan, jumlah pendatang gelap dari Meksiko yang ditangkap di perbatasan Amerika Serikat juga turun dalam jumlah yang sama.
Akan tetapi, migrasi legal juga terkena dapaknya. Imigrasi dari negara-negara Uni Eropa di Eropa Timur dan Tengah ke Republik Irlandia turun 60% dari 2008 ke 2009.
Dalam periode yang sama, di Amerika Serikat pemberian visa untuk pekerja musiman dengan keahlian rendah, seperti pemetik buah dan sayur, turun 50%.
Tetapi migran yang sudah berada di negara-negara maju juga mengalami masa sulit.
Sebagai contoh di Spanyol, resesi berdampak besar pada warga pendatang.
Laporan ini mencatat bahwa pada akhir tahun 2007, 12,4% imigran di Spanyol menganggur, sementara 7,9% warga Spanyol yang menganggur.
Tetapi pada pertengahan 2010, setelah masa kejayaan dunia konstruksi Spanyol melambat, angka itu meningkat menjadi 30,2% dan 18,1%.
"Imigran di sektor tenaga kerja Spanyol adalah 1 dari enam orang, tetapi kini satu dari empat pengangguran adalah imigran," ujar MPI.
Hal ini sebagian karena para imigran cenderung bekerja di sektor ekonomi yang lebih rentan terhadap resesi. Tetapi situasi ini menjadi masalah besar bagi pemerintah Spanyol yang masih memiliki angka pengangguran tertinggi di 16 negara pengguna mata uang euro.
'Imigran tahan banting'
Situasi di Inggris dalam laporan itu sedikit berbeda.

Menurut MPI, pertumbuhan ekonomi yang pesat dan keterbukaan lebih tinggi terhadap migran ekonomi membuat jumlah populasi kelahiran negara lain mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah, berjumlah 13%, ketika masalah kredit macet mulai merambah di tahun 2007.
Tetapi penelitian ini menemukan bahwa tingkat pengangguran di kalangan warga Eropa Timur dan Tengah yang tiba setelah tahun 2005 secara relatif tidak tinggi.
"Tingginya pendatang saat ekonomi tumbuh bagus tidak menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan imigran, ini terutama karena para pekerja asal Eropa Timur yang jumlahnya sangat besar cukup tahan banting saat terjadi kelesuan," tulis laporan itu.
Laporan ini juga menyebut bahwa ada pertanda bahwa pendatang asal Eropa Timur cenderung untuk tinggal secara permanen dan berkeluarga di Inggris, "berbeda dengan citra pekerja Eropa Timur sebagai berusia muda, belum menikah dan memiliki semangat kerja tinggi."
Akan tetapi tidak semua kelompok imigran di Inggris mendapat catatan positif. Jumlah pengangguran di kalangan pendatang asal Afrika dan Pakistan/Bangladesh mencapai tingkat tertinggi masing-masing sebanyak 14% dan 17% tahun lalu, sebelum perbaikan ekonomi menurunkan sedikit angka tersebut.
Transfer menurun
Secara keseluruhan para pekerja migran tetap mengirim kepada keluarga mereka.
Aliran pengiriman uang, yang sebelum resesi global naik tajam, turun 6% tahun 2009 dan akan kembali naik 6% tahun ini.
Akan tetapi jumlah total itu tidak menggambarkan situasi yang sama untuk masing-masing wilayah.
Ketika pengiriman ke Asia Selatan tahun lalu naik 4,9%, pengiriman ke Eropa dan Asia Tengah turun 20,7%, dan pengiriman ke Amerika Latin dan Karibia turun 12,3%.
"Jelas terlihat bahwa pengiriman uang dari pekerja migran ke negara asal mereka turun sangat besar dibanding ketika tidak terjadi krisis global ekonomi," tulis laporan ini.
Tujuan baru
MPI mencatat bahwa kelesuan ekonomi "telah memperkuat pandangan pihak yang memang selalu skeptis terhadap manfaat imigran".
Antara tahun 2008 dan 2009 Amerika Serikat dan sejumlah negara-negara Eropa mengalami peningkatan jumlah warga yang menganggap imigrasi lebih sebagai masalah daripada sebagai satu kesempatan.
Akan tetapi laporan itu mengatakan negara-negara tersebut bukan daerah tujuan utama bagi para pendatang di masa depan.
"Meskipun jumlah imigran di seluruh dunia diperkirakan akan naik di masa depan, negara-negara berkembang -yang bukan merupakan daerah tujuan tradisional di wilayah yang lebih maju -akan menjadi penampung pertumbuhan ini dan mengalami peningkatan pekerja pendatang," ujar laporan MPI tersebut.





























