Philips diusut soal 'manusia beruang'

Salah satu jalan di Singapura lama
Keterangan gambar, Salah satu jalan di Singapura lama
Telah diterbitkan

Pihak yang berwenang di Singapura melakukan penyelidikan kriminal terhadap perusahaan elektronik Belanda, Philips, sehubungan dengan kampanye iklannya.

Satu rekaman video yang tidak begitu terang, yang diterbitkan di situs-situs media sosial menyebutkan seekor beruang liar mengitari kawasan perumahan warga.

Sejumlah pemirsa menyadari bahwa beruang itu palsu, tetapi para petugas taman margasatwa yang membawa senjata pelumpuh melakukan pencarian terhadap binatang itu.

Philips meminta maaf atas penggunaan manusia yang berpakaian seperti kulit beruang itu, yang direkam sewaktu hewan palsu tersebut mengorek-ngorek tong sampah.

Para anggota kepolisian, pegiat hak binatang dan staf kebun binatang menyusuri daerah itu setelah rekaman video dimaksud beredar.

'Sangat menyesal'

Polisi kemudian mengatakan mereka mengusut Philips karena "mengganggu ketenteraman umum sesuai pasal 268 hukum pidana".

Jika dinyatakan bersalah, Philips bisa dikenai denda $1.000 Singapura atau sekitar Rp6,8 juta.

Kantor humas Philips mengeluarkan satu pernyataan mengenai insiden itu. "Kami mengakui bahwa kemiripan beruang maskot itu dengan beruang asli telah menyebabkan kecemasan di tengah warga tempat maskot itu terlihat.

"Kami sudah mengantisipasi bahwa beruang itu akan menarik perhatian, namun tidak ada niat untuk membuat kegaduhan. Kami meminta maaf atas rasa cemas yang ditimbulkannya."

Laporan-laporan menyebutkan bahwa pencarian terhadap beruang yang sebenarnya tidak ada itu melibatkan 12 orang staf Badan Satwa Liar (Wildlife Reserves) Singapura, tiga orang dari kelompok perlindungan binatang, Animal Concerns Research and Education Society (Acres), dan beberapa petugas kepolisian.

Pencakar langit di Singapura
Keterangan gambar, Pencakar langit di Singapura

Situs internet jurnalistik rakyat, Stomp, milik harian Straits Times menerima rekaman video beruang pslsu itu.

Situs tersebut melaporkan bahwa penduduk di sekitar Jalan Ulu Pandan, tempat video itu direkam, merasa waswas karena takut ada beruang liar yang lepas.

"Kami gembira bahwa meskipun banyak waktu dan tenaga yang terbuang, ternyata tidak ada beruang yang lepas," kata jurubicara Acres.