Serangan tikus India

Tikus India
Keterangan gambar, Banjir tikus merusak panen padi di daerah
    • Penulis, Victoria Gill
    • Peranan, Wartawan ilmu pengetahuan BBC
  • Telah diterbitkan

Para petani setempat menamakannya banjir yang terjadi setiap 50 tahun.

Pihak lain memandang hal ini adalah kehendak Tuhan. Suatu hal yang tidak bisa dihindari.

Tanah pertanian India timur laut dibanjiri tikus bukannya air.

Wabah tikus besar-besaran yang terjadi sekali dalam setiap generasi ini merusak tanaman dan membuat penduduk kelaparan.

Para ilmuwan pada mulanya tidak mempercayai wabah gerombolan tikus ini.

Ledakan populasi tikus ini menyebabkan masalah pasokan pangan terutama biji bambu, kata para ahli.

Ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana hubungan sederhana dua spesies, rumput tinggi dan tikus dapat mengubah ekologi kawasan, merusak alam, pertanian dan menyengsarakan penduduk.

Dan yang lebih buruk lagi, para ilmuwan memperkirakan perubahan iklim dapat meningkatkan populasi tikus dalam jumlah yang lebih besar lagi di masa depan.

Hutan bambu

Peta Asia Selatan

Hutan bambu seluas lebih 26 ribu kilometer persegi menutupi negara bagian Mizoram, India timur laut sampai ke Pebukitan Chin di Birma dan Pebukitan Chittagong di Bangladesh.

Spesies bambu Melcocanna baccifera sangat penting bagi petani yang seluruh kehidupannya bergantung pada tumbuhan yang mereka tanam.

Batang bambu muda tersebut menjadi bahan bangunan, pakaian dan pangan.

Bambu adalah tanaman agresif yang mematikan saingannya di alam.

Tetapi setiap 50 tahun, tanaman bambu mati.

Apapun keadaan lingkungannya setiap tanaman memiliki waktu tertentu untuk berbunga, menyebarkan biji dan mati.

"Ini adalah cara bambu untuk memastikan bibitnya dapat bertahan hidup," kata Steve Belmain ahli ekologi dari Universitas Greenwich di London.

"Tetapi ketika bibit bambu keluar - terdapat 80 ton bibit per hektar di tanah.

"Ini berarti 80 ton makanan siap untuk dimakan."

Bagi Dr Belmain dan rekannya musim berbunga bambu baru-baru ini, yang dimulai tahun 2004 dan akan berlangsung sampai 2011, adalah suatu kesempatan unik untuk mengkaji peristiwa yang terjadi hanya sekali setiap setengah abad.

"Sebelumnya yang kami ketahuinya hanyalah lelucon dari 50 tahun lalu," katanya kepada BBC.

"Hal ini menjadi legenda - kebanyakan orang yang tinggal di daerah tersebut sekarang belum lahir saat wabah terakhir terjadi."

Gerombolan tikus

Baru sekarang para ilmuwan mengakui bahwa "bambu" memicu wabah.

Skala dan ketidakteraturan kejadian ini membuat sejumlah orang memandangnya sebagai sebuah mitos saja.

"Banyaknya cerita aneh mempersulit para ilmuwan untuk menanggapi secara serius dan membedakan fakta dengan fiksi," kata Belmain.

tikus india
Keterangan gambar, Lebih 2,6 juta tikus ditemukan di Delta Ayeyarwaddy pada Juni-September 2009

Ketika para rekannya mewawancarai penduduk Hill Tracts beberapa orang mengatakan "gerombolan tikus" sepertinya saling bekerja sama.

Sebagian memandang wabah tikus sebagai kehendak Tuhan.

Masalah terbesar petani setempat adalah padi yang ditanam pada tempat rendah mempermudah tikus untuk memakannya.

Belmain mengatakan saat tikus muncul sejumlah orang berhenti menanam karena memandang usaha tersebut tidak ada gunanya.

Dia dan rekannya Grant Singleton dari Badan Penelitian Padi Internasional di Manila Filipina baru saja merangkum dan menerbitkan sebuah buku baru, Wabah Tikus - Ekologi dan Pengaruhnya.

Buku tersebut merangkum temuan para peneliti di kawasan, mengkaji ekologi setempat dan kebiasaan bertani.

Selain kelaparan yang terjadi di banyak tempat, Dr Singleton mengatakan kepada BBC, wabah tikus "merusak" ekologi hutan.

"Pengaruhnya sangat besar terhadap serangga dan binatang lainnya - habitat dan pangan musnah," katanya.

Apati terhadap wabah

Tetapi tidak banyak yang dilakukan para penduduk meskipun tanamannya rusak.

wabah tikus
Keterangan gambar, Sebagian besar metode pengawasan hama tidak berhasil

Para ilmuwan mengatakan muncul apatisme di kawasan.

Di dataran rendah Birma, badai Nargis memperburuk keadaan. Badai ini menewaskan 140 ribu orang.

Dr Singleton mengatakan: "Karena badai sangat parah dan banyak korban tewas, sejumlah daerah terbengkalai, tanaman tidak dipanen.

"Lahan ini menjadi ditumbuhi rumput-rumputan yang menjadi tempat tikus berkembang biak.

"Selain itu petani kecil mengatasi akibat badai secara bertahap, sehingga tumbuhan juga ditanam pada waktu yang berbeda beda.

"Akibatnya waktu panen juga berbeda beda yang berarti tikus memiliki makanan pada waktu yang lebih lama."

Semua hal ini menyebabkan waktu berkembang biak tikus lebih lama, anak tikus menjadi dewasa dan berkembang biak sebelum masa panen berakhir. Akibatnya: ledakan populasi tikus.

Badai kemungkinan juga membunuh pemangsa tikus seperti ular.

Jumlah tikus semakin sulit terkontrol karena hal ini, disamping lahan terbengkalai dan semakin sedikitnya penduduk.

Dari bulan Juni sampai September 2009, progam penangkapan tikus yang dilakukan masyarakat di beberapa kota Delta Ayeyarwaddy mengumpulkan lebih 2.600.00 ekor tikus.

Dr Belmain mengatakan sangat besarnya jumlah tikus berkaitan dengan badai.

"Wabah sebesar ini belum pernah tercatat dalam 30 tahun terakhir di delta ini," katanya kepada BBC.

Para ilmuwan memandang wabah tikus dan hama tanaman lain setelah terjadinya keadaan iklim ekstrim kemungkinan besar akan semakin biasa terjadi sementara terjadi perubahan iklim.

Hama aneh

Tikus India
Keterangan gambar, Gigi tikus terus tumbuh sepanjang hidup

Wabah ini bukannya hanya melibatkan satu spesies tikus, tetapi salah satu jenis yang paling banyak ditemui di Delta Ayeyarwaddy adalah Bandicota savilei.

Tikus ini adalah spesies asli, bukannya predator baru pada lingkungan baru yang tidak memiliki saingan.

Tetapi sepertinya alam sangat dipengaruhi apa yang terjadi pada tanaman bambu sehingga spesies asli ini menjadi tidak terkontrol.

Tikus ini dapat melahirkan setiap tiga minggu dan tikus akan menjadi dewasa secara seksual hanya dalam 50-60 hari.

Ini adalah masalah yang selalu dihadapi ilmuwan karena jalan keluarnya sebenarnya sederhana.

Dr Belmain mengatakan: "Sebagian besar metode pengawasan hama tidak berguna. Di India, para petani seringkali menggunakan racun yang dibeli di pasar dan menyebarkannya."

Salah satu jalan keluar adalah pagar lembaran plastik sederhana dengan sejumlah lubang yang mengarah ke jebakan tikus.

Dr Belmain dan rekan-rekannya berharap dapat mengajar petani setempat mengenai jebakan ini sehingga mereka dapat lebih mengatasi kekurangan pangan.

Belmain mengatakan: Mereka kemungkinan merasa apatis karena mereka telah mencoba dan mengalami kegagalan.

"Karena itulah anda harus membantu mereka dan menunjukkan bahwa kehidupan mereka dapat membaik.

"Penduduk dapat melakukan lebih banyak hal jika diatur."

Sepertinya persiapan yang baik adalah kunci dalam mengatasi gerombolan tikus.