Empat tahun setelah gempa

Gempa dengan kekuatan 6,3 skala Richtermenghantam Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006.
Korban yang tewas mencapai 5.749 orang sementara 127.000 rumah hancur.
Sejumlah lahan pertanian juga rusak sementara ribuan ternak tewas.
Salah satu daerah yang paling parah dihantam gempa adalah Bantul, di sebelah selatan Yogyakarta.
Wartawan BBC, Vivien Marsh, bersama dengan beberapa wartawan internasional lain, berkunjung ke kawasan yang terkena gempa untuk melihat upaya rekonstruksi dan bantuan kepada masyarakat.
Kerajinan tenun

Di Sukoharjo, kerajinan tenun terpukul akibat bencana gempa bumi itu, namun kini industri tenun rumah tangga ini sudah mulai normal kembali.
Mereka antara lain mendapat bantuan dari lembaga asal Jerman GTZ (German Technical Cooperation), yang memusatkan perhatian kepada pengembangan industri mikro dan kecil.
Sementara itu Dana Rekonstruksi Jawa sudah membangun 15.000 rumah.
Namun manajer Dana Rekonstruksi Jawa, Shamima Khan, mengatakan pembangunan itu baru sekiatr 10% dari total pembangunan rumah yang dibutuhkan.
Bantuan dan pelatihan

Selain mendapat bantuan tehnis, masyarakat yang menjadi korban gempa juga mendapat bantuan dalam perencanaan untuk membangun kembali wilayah mereka dengan mempergunakan sistem gotong royong.
Empat tahun setelah bencana gempa melanda, perhatian kini diajukan pada pengembangan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Menurut Imam Krismanto, konsultan manajemen yang membantu upaya rekonstruksi di Yogyakarta dan sekitarnya, masyarakat korban gempa juga mendapat pelatihan untuk mengurangi dampak bencana alam di masa depan.
Memulihkan peternakan

Torsten Haschenz, Kepala IOM di Yogyakarta, antara lain mengawasi pemulihan kembali upaya peternakan yang hancur akibat gempa empat tahun lalu.
Banyak ternak yang tewas dan bagi sebagian masyarakat di pedesaan di sekitar Yogyakarta, ternak merupakan sumber utama penghidupan.
Dengan bantuan IOM, para peternak juga mendapat bantuan dalam pembukuan dan perencanaan bisnis maupun upaya untuk mendorong kerja sama antar peternak untuk meningkatkan kualitas produksi ternak mereka.
Pewarna organik

Terdapat sekitar 170 kerajinan batik berskala industri rumah tangga di Kebon, salah satu desa yang dihantam gempa 2006.
Selain mendapat bantuan untuk bangkit kembali dari dampak gempa, para pengrajin batik juga mendapat pelatihan tentang kesadaran lingkungan dalam proses pembuatan batik.
Organisasi Migrasi Internasional, IOM, yang ikut membantu upaya rekonstruksi di Yogyakarta dan sekitarnya, mengatakan kini seluruh industri rumah tangga batik di Kebon sudah menggunakan bahan pewarna organik.
Menjadi produsen.

Sebelum gempa, Imasuriyani bekerja sebagai buruh bagian pewarnaan salah satu industri batik, namun kini dia sudah menghasilkan batik sendiri.
Dia mendapat pelatihan menggunakan pewarna organik untuk batik buatannya dan rasa percaya dirinya semakin meningkat untuk menggunakan pengetahuan tentang pewarna organik.
Namun Imasuriyani menegaskan dia dan teman-temannya masih menbutuhkan bantuan sekitar dua atau tiga tahun lagi.
Irigasi kembali berfungsi.

Perbaikan irigasi untuk pertanian antara lain mencakup pembangunan 12 jembatan dan 6 pintu air, untuk mengendalikan arus air sehingga mengurangi risiko kebanjitan.
Dengan berfungsinya kembali irigasi, sekitar 120 petani di Kebon sudah bisa kembali berproduksi dan beberapa malah meningkatkan produk hasil lahannya.
Kawasan di sekitar Yogyakarta, termasuk Bantul, merupakan salah satu kawasan pertanian dan peternakan yang penting.
Rumah lebih baik

Pada tanggal 27 Mei, gempa menghantam Yogyakarta dan sekitarnya pada pukul 05.55 sehingga masih banyak warga yang berada di dalam rumahnya.
Wakil Gubernur Provinsi Daerah Khusus Yogyakarta, Sri Paku Alam, mengatakan bencana 2006 seperti "neraka."
Namun dia meng\takan banyak korban gempa yang dulu kehilangan rumah, berhasil membangun kembali rumah dengan kondisi yang lebih baik.


