Bagaimana membuat perahu pinisi?

Telah diterbitkan

Satu perahu pinisi tengah dibuat di Makassar dan akan dijadikan sebagai ikon kota oleh penduduk desa Ara yang dikenal memiliki ketrampilan membuat perahu.

pinisi makassar
Keterangan gambar, Tepat di seberang Benteng Rotterdam, Makassar, sebuah perahu pinisi tengah dibuat untuk menjadi ikon kota
pinisi makassar
Keterangan gambar, Dikerjakan oleh tujuh orang, perahu pinisi ini direncanakan rampung pada Agustus mendatang.
pinisi makassar
Keterangan gambar, Sudah dua bulan lebih perahu pinisi dikerjakan. "Pinisi adalah lambang kota Makassar, tapi lihat sekitar….tidak ada tempat di mana orang bisa melihat kapal yang sesungguhnya. Adanya hanya miniatur," kata Mulyawan Galib dari Kitaji Pusaka Mandiri, bercerita tentang latar belakang pembuatan.
pinisi makassar
Keterangan gambar, Para pembuat perahu adalah orang-orang dari Desa Ara, Sulawesi Selatan yang sudah terkenal dengan keahliannya membuat perahu.
pinisi makassar
Keterangan gambar, Tempat pembuatan perahu yang dekat dengan Benteng Rotterdam menjadi objek wisata tersendiri bagi banyak warga lokal dan turis.
pinisi makassar
Keterangan gambar, Sebagai bagian dari tradisi masyarakat, pembuatan perahu tidak lepas dari upacara adat. Ada upacara peminangan pohon misalnya, untuk meminta izin penebangan pohon
pinisi makassar
Keterangan gambar, Menyambut selesainya perahu pada Agustus nanti, akan digelar Pesta Budaya di Pantai Losari Makassar yang melibatkan 24 kabupaten di Sulawesi Selatan dan Barat. (Foto: Valent Mustamin)
pinisi makassar
Keterangan gambar, Perahu Pinisi nantinya akan digunakan untuk wisata berlayar bagi anak-anak dan turis yang ingin mengenal lebih dekat ikon Makassar tersebut, kata penyelenggara. (Foto: Valent Mustamin)
pinisi makassar
Keterangan gambar, Selain bisa melihat pembuatan perahu, pengunjung juga bisa melihat sejumlah lukisan yang dibuat oleh seniman Makassar, seperti lukisan Perahu Pinisi ini.
pinisi makassar
Keterangan gambar, "Ini lukisan tentang Perahu Phinisi yang terbang menuju bulan," kata pelukis Makassar, Mike Turusi yang tengah menegerjakan lukisannya di lokasi. "Inspirasi dari lagu Marencong-rencong. Batu rate ma ribulang marencong-rencong. Artinya saya sudah dari atas bulan, berkelana keliling dan bertemu bintang-bintang. Jadi sebelum Neil Armstrong ada, lagu itu sudah ada…"