Mimpi jutaan dolar Madrid buyar

Real Madrid dua kali kalah di tangan Barcelona musim ini dan harus merelakan mahkota La Liga kembali direbut seteru abadinya itu
Keterangan gambar, Real Madrid dua kali kalah di tangan Barcelona musim ini dan harus merelakan mahkota La Liga kembali direbut seteru abadinya itu
    • Penulis, Ervan Hardoko
    • Peranan, BBC Indonesia
  • Telah diterbitkan

Kemenangan Barcelona atas Real Valladolid 4-0 di Nou Camp, Minggu (16/5) tak hanya memastikan mahkota La Liga tetap milik tim Catalan, namun sekaligus memastikan Real Madrid mengakhiri musim ini tanpa satu pun.

Di saat yang sama, Real Madrid tampil buruk dan hanya bermain imbang 1-1 saat menghadapi Malaga. Sehingga, El Blancos hanya mengumpulkan 96 angka terpaut tiga angka dari sang juara. Kondisi ini merupakan pukulan berat bagi para pendukung setia Cristiano Ronaldo dkk.

Sebelum memulai musim ini harapan bagi Madrid untuk kembali merajai Eropa membubung tinggi. Apalagi saat sang presiden Florentino Perez menggelontorkan uang sebesar US$ 310 juta untuk merekrut para pemain bintang.

Cita-cita Florentino hanya satu, yaitu Madrid bisa merajai tak hanya Liga Domestik namun juga Eropa. Apalagi final Liga Champions musim ini digelar di Stadion Santiago Bernabeu, yang tak lain adalah markas El Real.

Dengan uang ratusan juta dolar itu, Madrid dengan mudahnya merekrut Cristiano Ronaldo, Kaka, Xabi alonso, Karim Benzema dan beberapa nama lainnya. Dengan bergabungnya nama-nama besar ini, maka target Florentino Perez nampaknya sangat masuk akal.

Juara Eropa menjadi salah satu target utama Madrid. Sebab, sejak menjadi juara tahun 2004 lalu klub ibukota Spanyol ini belum lagi mencicipi kesuksesan di ajang Liga Champions.

Ditambah kemungkinan dinobatkan menjadi juara Eropa ke-10 kalinya di kandang sendiri semakin membuat pendukung klub ini yakin target besar Perez bisa terwujud.

"Nama benua Eropa sudah ada di dalam DNA Madrid. Dan Real Madrid sangat mencintai Liga Champions di atas segalanya," kata Perez pertengahan musim ini.

Namun, kegagalan sudah mulai nampak saat klub yang ditukangipelatih asal Cile Manuel Pellegrini ini kandas di babak 16 besar di tangan juara Prancis Olympique Lyon.

Problem Madrid

Salah satu titik lemah Madrid adalah lini pertahanan
Keterangan gambar, Salah satu titik lemah Madrid adalah lini pertahanan

Kekalahan dari Lyon ini sebenarnya bukan satu-satunya kejutan yang diterima Los Galacticos jilid II ini. Dan bahkan, Cristiano Ronaldo dkk sebenarnya sangat rentan bila berhadapan dengan klub-klub besar.

Di awal musim, Madrid kalah 2-1 dari Sevilla. Kemudian, di kandang sendiri digulung AC Milan 2-3 dalam babak penyisihan grup Liga Champions, meski masih bisa lolos dari babak ini.

Namun di babak 16 besar, Madrid harus menelan kekalahan 0-1 dari Lyon di Prancis dan hanya bermain imbang 1-1 di kandang sendiri. Tak hanya itu, Madrid juga takluk dua kali di tangan musuh bebuyutannya Barcelona 1-0 dan 2-0.

Tak hanya kerepotan menghadapi klub-klub besar, Madrid pun kerap kedodoran saat menghadapi klub kecil dengan semangat dan motivasi besar.

Salah satu kekalahan Madrid yang paling mengejutkan adalah di tangan klub Divisi III Alcorcon di ajang Piala Raja, Oktober 2009. Madrid bahkan dipermalukan 0-4 oleh klub kecil itu.

Di pertandingan leg kedua Madrid hanya bisa menceploskan satu gol ke gawang Alcorcon yang membuat el Merengues tersisih di ajang Copa del Rey yang terkakhir kali direbut Madrid tahun 1993.

Dari sederet kekalahan ini, sebenarnya sudah terlihat jelas kelemahan Real Madrid yaitu lemahnya pertahanan, miskin kreativitas dan buruknya semangat tim.

Saat sang bintang Ronaldo cedera, saat perfroma Kaka menurun dan kala Alonso dan Benzema masih menyesuaikan diri maka kondisi Madrid semakin buruk. Harian Olahraga Marca bahkan telah mendesak pemecatan Pellegrini usai kekalahan dari Alcorcon itu.

Kekalahan atas Alcorcon ini akhirnya membuat Pellegrini harus membuat keputusan drastis. Pelatih Cile ini melihat perlunya pemain tengah berpengaruh dalam tubuh tim asuhannya ini.

Jose Maria "Guti" Gutierrez yang sebelumnya sempat dipinggirkan kembali dipasang di lini tengah. Kemudian Pellegrini mematenkan pasangan Ronaldo-Higuain ketimbang Ronaldo-Benzema yang tidak klop.

Pellegrini harus memutar otak membenahi penampilan Madrid
Keterangan gambar, Pellegrini harus memutar otak membenahi penampilan Madrid

Perubahan ini nampaknya cukup memberi pengaruh dan penampilan Madrid perlahan-lahan mulai membaik.

Bahkan Madrid mampu pertama kalinya selama 19 tahun terakhir mengalahkan Deportivo La Coruna di kandanganya Stadion Riazor.

Tak hanya itu, kemenangan di Riazor itu mewarnai rentetan 12 kemenangan beruntun yang dihiasi torehan 41 gol dan hanya kemasukan 12 gol.

Membaiknya penampilan Madrid di sisa musim ini tak lepas dari peran sebagian pemain baru dan sebagian lagi pemain lama yang sempat dipinggirkan.

Dari deretan pemain mahal yang didatangkan, Ronaldo menjadi bintang dengan 26 golnya. Sementara di lini tengah Alonso semakin memastikan perannya dan di lini belakang Alvaro Arbeloa serta Raul Albiol tampil memikat.

Sementara, pemain yang termasuk bergaji paling rendah di Madrid, Gonzalo Higuain juga menjadi pahlawan baru. Pemain Argentina ini menjadi top skorer Madrid dengan koleksi 27 golnya.

Dan jangan dilupakan peran Rafael van der Vaart. Pemain Belanda yang kerap menjadi cadangan ini justru tampil hebat saat penampilan pemain mahal lainnya Kaka belum menunjukkan kelas terbaiknya.

Masa depan Pellegrini suram

Jose Mourinho diisukan melatih Real Madrid musim depan
Keterangan gambar, Jose Mourinho diisukan melatih Real Madrid musim depan

Meski penampilan Madrid kian membaik bahkan mencetak lebih dari 100 gol musim ini, namun masa depan pelatih Pellegrini di Real Madrid belum jelas.

Peringkat kedua bagi Madrid belumlah cukup. Itulah sebabnya Pellegrini yang sukses menangangi berbagai klub di Cile, Argentina, Ekuador dan terakhir sukses memoles Villareal belum tentu menjadi nakhoda Los Blancos musim depan.

Penilaiannya jelas, Pellegrini tak mampu mempersembahkan mahkota La Liga dan Liga Champions Eropa. Pellegrini selama ini selalu membela penampilan anak-anak asuhnya meski dia mengakui permainan Madrid memang tak secantik rival abadinya, Barcelona.

"Saya tak mengatakan kami adalah skuad Real Madrid terbaik sepanjang sejarah klub. Namun, statistik dan data yang ada menunjukkan kami memang terbaik," kata Pellegrini.

Meski demikian, banyak yang menduga bahwa manajemen Madrid akan mengganti Pellegrini dengan sosok yang lebih berkharisma.

Salah satu sosok paling diincar adalah Jose Mourinho. Apalagi mantan pelatih Chelsea ini sukses membawa Inter Milan lolos ke final Liga Champions setelah menghempaskan Barcelona, yang tak mampu dikalahkan Madrid, di babak semi final.