Korsel dianggap paling berpeluang

- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Telah diterbitkan
Korea Selatan dianggap sebagai tim yang paling siap dibanding Jepang dan Korea Utara, sebagai wakil benua Asia pada Piala Dunia 2010, di Afrika Selatan.
Jam terbang yang tinggi dalam mengikuti lebih dari lima kali piala dunia, dianggap sebagai tolok ukur penting kenapa mereka dianggap lebih berpeluang maju ke babak berikutnya ketimbang dua negara asia lainnya.
Delapan tahun silam di Piala Dunia 2002, Korea Selatan mencatat sejarah emas bagi sejarah sepakbola Asia. Kemenangan anak asuhan Guus Hiddink ini atas Spanyol -- melalui tendangan pinalti di perempat final -- merupakan prestasi tertinggi yang diraih negara Asia dalam sejarah piala dunia.
Melalui kemenangan yang diwarnai kontroversi ini, Korea Selatan kemudian maju ke semifinal, sebelum akhirnya dikalahkan Jerman 1-0 dan menyerah pada Turki 2-3 di perebutan juara 3.
Sekarang, pada momen Piala Dunia 2010 yang akan digelar beberapa saat lagi, Korea Selatan bertekad mengulangi kisah sukses itu -- atau bahkan ingin melampaui pencapaian itu.
"Saya rasa, Korsel yang paling kuat, karena mereka punya pengalaman di Piala Dunia 2002 lalu," kata ujung tombak klub Arema Malang, yang juga pemain nasional tim nasional Singapura, Noh Alam Shah. "Korsel tahu cara mencetak prestasi bagus."
Faktor cuaca, menurut Noh, juga akan membuat Park Ji Sung akan mampu berbuat banyak di Afrika Selatan, dan lolos ke delapan besar. "Karena cuaca yang panas di Afsel, mirip seperti di Asia," ulasnya.
Kelebihan mereka dari segi teknik dan taktikal. Dan kelincahan mereka, juga kecepatan, itu dimiliki seluruh anggota tim Muhammad Ridhuan
Lolos bersama Argentina
Dibanding Korea Utara dan Jepang yang bergabung di Grup E dan G yang "sulit", menurut Noh, Korsel berada di Grup B yang disebutnya "tidak sesulit di dalam grup maut yang didiami Korut dan Jepang."
"Hanya lawan Argentina, mungkin ini pertandingan yang agak sulit buat Korsel," kata Noh.
Selain Argentina di grup ini bercokol pula Nigeria dan Yunani, yang di mata Noh, kekuatannya tidak jauh berbeda dengan Korsel.
Dari segi teknik permainan, menurut pemain tim nasional Singapura yang kini merumput untuk klub Arema Malang, Muhammad Ridhuan, Korsel tidak kalah dibanding lawan-lawannya itu.
"Kelebihan mereka dari segi teknik dan taktikal. Dan kelincahan mereka, juga kecepatan, itu dimiliki seluruh anggota tim," papar Ridhuan.
Selain faktor sejarah, sebagian para pemain dari negeri ginseng itu lebih berpengalaman mengikuti kompetisi sepakbola dunia, yang dianggap mempunyai tradisi sepakbola yang kuat.
Sebutlah Park Ji Sung, gelandang sayap klub elit dunia, Manchester United, yang namanya terus menanjak semenjak bergabung di klub tersebut.
Korut miskin pengalaman

Tim sepakbola Korea Utara pernah mengejutkan dunia, ketika mengalahkan Italia 1-0 di Piala Dunia 1966. Saat itu kekuatan negara itu "tidak banyak diketahui orang lain", yang menurut Ridhuan dapat terulang sekarang dan "menjadi kekuatan yang menakutkan".
Hampir tidak banyak yang tahu kiprah para pemain Korea Utara, kecuali segelintir pemainnya yang bermain di liga Jepang dan Rusia. Sebagian besar mereka bermain di liga domestik.
Tetapi semenjak kemenangan di Inggris 44 tahun silam, Korea Utara tak pernah tampil lagi di Piala Dunia.
Sekarang di bawah pelatih Kim Jong-Hun, para pemain dari negeri Komunis berada di dalam grup neraka, di mana bercokol Brazil, Portugal, dan Pantai Gading.
Dari kenyataan inilah, menurut Ridhuan, sangat sulit bagi Korea Utara lolos ke babak berikutnya.
"Walaupun faktor kejutan akan selalu ada, tetapi tim Korut masih miskin pengalaman," jelasnya.
"Mereka masih baru, dan belum terbiasa masuk ke kualifikasi piala dunia. Jadi mungkin agak sulit, karena belum berpengalaman. Ini berbeda dengan Korsel atau Jepang," analisa Ridhuan.
Berpeluangkah Jepang?
Prestasi terbaik Jepang di ajang piala dunia, adalah lolos ke putaran kedua, yang terjadi delapan tahun silam, saat Jepang dan Korsel menjadi tuan rumah bersama.
Di penyisihan grup, mereka mengalahkan Rusia (1-0) dan Tunisia (2-0), dan maju ke babak berikutnya. Tetapi di putaran 16 besar, langkah mereka terhenti di kaki Turki dengan skor 1-0.
Bermodalkan sejarah seperti itulah, Jepang kini harus mampu mengalahkan Belanda, Denmark, serta Kamerun.
"Pengalaman mereka masih minim, dan pemainnya sebagian besar masih muda," kata Noh Alam.
Dibanding negara-negara mapan di bidang sepakbola yang biasa tampil di piala dunia, kehadiran negara-negara Asia memang relatif baru.
Tetapi faktor kejutan selalu memberi tempat kepada mereka, meskipun fenomena seperti itu biasanya berhenti di babak 16 besar atau 8 besar.





























