Inggris kecewa dengan proses FIFA

piala dunia
Keterangan gambar, Rusia terpilih untuk menyelenggarakan Piala Dunia 2018
Telah diterbitkan

Ketua tim pencalonan Inggris untuk Piala Dunia 2018, Andy Anson, mengecam proses penentuan tuan Piala Dunia 2018 dan 2022.

"Memilih tuan rumah untuk dua penyelenggaraan Piala Dunia sekaligus, jelas keliru," kata Anson.

"Situasi ini menyebabkan pihak-pihak yang memiliki hak suara berkolusi untuk memilih tuan rumah 2018 dan 2088," tambah Anson.

Dalam pemungutan suara yang digelar FIFA, Inggris gagal menjadi tuan Piala Dunia 2018. Rusia meraih suara terbanyak untuk penyelenggaraan 2018 sementara Qatar terpilih untuk menggelar Piala Dunia 2022.

Selain Inggris, yang juga gagal menjadi tuan rumah 2018 adalah Belanda-Belgia dan Spanyol-Portugal.

Anson mengatakan tersingkirnya Inggris di putaran pertama sangat mengecewakan.

"Kalau proses ini dicermati, negara-negara yang mendapat penilaian bagus tersingkir di babak awal. Sedangkan negara yang banyak mendapatkan pertanyaan justru menang," kata Anson.

Janji dukungan suara

Anson juga mengaku kecewa karena janji-janji dukungan ke Inggris tidak menjadi kenyataan.

"Kami memperkirakan Inggris akan maju ke putaran kedua dan ke putaran-putaran selanjutnya," kata Anson.

"Namun janji suara yang kami peroleh tidak terwujud di proses pemungutan suara."

"Kami menerima janji (dukungan suara) dan kami percaya dengan mereka. Namun mereka tidak menetapi janji," kata Anson.

Kekecewaan juga disampaikan Perdana Menteri Inggris David Cameron, yang hadir langsung dalam pemungutan suara di Zurich, Swiss.

Cameron mengatakan berdasarkan penilaian FIFA, Inggris memiliki keunggulan teknis dibandingkan negara-negara lain.

"Dari sisi komersial kami juga sangat kuat. Rakyat Inggris sangat menyukai sepak bola. Namun itu rupanya tidak cukup," kata Cameron