Jabat tangan bisa jadi urusan besar

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Anton Alifandi
- Peranan, BBC Indonesia
- Telah diterbitkan
Manajer Fulham Mark Hughes marah kepada boss Manchester City Roberto Mancini yang menurutnya tidak tulus dalam berjabat tangan.
Hughes merasa Mancini tidak menatap matanya ketika mengulurkan tangan sehingga Hughes dengan gusar menarik tangannya.
Kemarahan Hughes kepada Mancini dia tunjukkan setelah pertandingan yang berakhir imbang 1-1 pada hari Minggu.
Dalam penjelasan kepada media setelah pertandingan, Hughes berusaha menenangkan keadaan dengan meminta maaf atas perbuatannya.
"Saya mohon maaf kalau ada yang tersinggung, mungkin saya kuno tetapi menurut saya dia tidak mengulurkan tangannya dengan tulus hati," kata Hughes yang sebelumnya adalah manajer City.
Mancini sendiri merasa tidak berbuat salah, tidak mengerti omongan Hughes di akhir pertandingan dan merasa tidak ada masalah di antara mereka.
Seperti halnya di banyak negara lain, jabat tangan antara pelatih dan pemain merupakan ritual yang penting dalam sepakbola Inggris sebagai isyarat sportivitas dan ucapan selamat bertanding.
Sudah menjadi tradisi bahwa manajer kedua kesebalasan akan berjabat tangan sebelum pertandingan dimulai dan setelah wasit meniup peluit panjang.
Mancini paham sopan santun ini walaupun ketika baru menjadi manajer Manchester City pada akhir tahun 2009 dia tidak hafal semua rekannya sesama manajer.
Dalam pertandingan melawan Stoke City, Mancini malah menjabat Peter Reid yang merupakan asisten manajer Tony Pulis.
Reid harus memperkenalkan Mancini kepada Pulis sebagai sesama manajer.
Bukan sekali ini saja Mark Hughes merasa kecewa dengan sesama manajer yang menurutnya tidak menunjukkan sopan santun.
Ketika masih menjadi manajer Manchester City, tim yang diasuh Hughes mengalahkan Arsenal 3-0 dalam pertandingan Piala Carling yang berlangsung panas.
Dalam pertandingan itu Wenger beberapa kali mengeluh kepada asisten wasit karena Hughes kerap meninggalkan technical area dan sesudah itu tidak mau menjabat tangan Hughes.
Wenger juga tidak mau meminta maaf kepada Hughes setelah peristiwa itu.
Sesama pemain
Soal jabat tangan ini juga bisa menjadi masalah di antara pemain.
Samir Nasri dengan sengaja tidak mengulurkan tangan kepada bekas rekan satu klubnya William Gallas dalam pertandingan Liga Primer melawan Spurs.
Konon perseteruan mereka dimulai di tim nasional Prancis ketika Gallas memarahi Nasri yang merupakan yuniornya karena Nasri menduduki tempat duduk seorang pemain senior di bus tim nasional.
Insiden jabat tangan juga terjadi antara John Terry dan Wayne Bridge yang merupakan kawan akrab ketika masih sama-sama membela Chelsea.
Bridge tidak mau menjabat tangan Terry karena bekas istrinya, Vanessa Perroncel, dikabarkan menjalin hubungan dengan Terry.
Tetapi kembali ke cerita awal soal Mark Hughes, orang yang satu ini memang menyimpan banyak cerita soal jabat tangan.
Sepanjang karirnya sebagai pemain profesional di Manchester United, Chelsea, Barcelona dan Bayern Munchen, Hughes dikenal sebagai penyerang pendiam yang tidak segan-segan melawan kekerasan dengan kekerasan.
Ketika dipinjamkan oleh Barcelona kepada Bayern Munchen, Hughes bercerita bagaimana kakinya menjadi biru lebam karena terus dikasari oleh dua palang pintu Inter Milan ketika itu, Ricardo Ferri dan Giuseppe Bergomi.
Hughes mengatakan dia merasa ketakutan ketika setelah pertandingan Ferri dan Bergomi sudah menunggunya di lorong menuju kamar ganti.
"Jangan-jangan saya akan dihajar lagi," kata Hughes.
Ternyata ketakutan itu tidak beralasan karena Ferri dan Bergomi cuma ingin menjabat tangan Hughes.





























