Jari-jari kekuasaan Sepp Blatter

Sumber gambar, AP
- Penulis, Yusuf Arifin
- Peranan, BBC Indonesia
- Telah diterbitkan
Akhirnya Sepp Blatter mengumumkan niatnya untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden FIFA.
Blatter menggunakan Kongres UEFA di La Grand Palais, Paris Selasa (22/03) untuk mengumumkan pencalonan dirinya dan akan bersaing dengan Presiden AFC, Mohamed Bin Hammam.
Berbicara kepada 53 anggota UEFA -dan terutama sekali ditujukan kepada Presiden URFA Michel Platini- Blatter untuk pertama kalinya mengatakan apabila terpilih kembali pada bulan Juni nanti, maka akan menjadi periode terakhir kepemimpinannya.
Dengan umurnya yang sudah 75 tahun tidaklah mengherankan kalau Blatter mengatakan periode empat tahun adalah periode terakhirnya.
Tetapi Bin Hammam, 61, mengatakan bahwa ketika pertama kali terpilih tahun 1998 Blatter pernah berucap hanya akan memegang jabatan paling lama dua kali. Dan kini setelah 12 tahun menjadi orang nomer satu di dunia sepakbola, Blatter masih ingin maju sekali lagi.
Karenanya, ''cukup sudah,'' kata Bin Hammam. Dan pengusaha Qatar ini mengisyaratkan ia ingin menjadi presiden FIFA hingga tahun 2019. Ia juga berjanji akan membuat FIFA lebih transparan, tidak lagi birokratis, dan mendorong penggunaan teknologi garis gawang.
Hubungan memburuk
Untuk publik penggemar bola, apa yang dikatakan Bin Hammam disambut baik. Sayangnya pemilik suara bukanlah publik sepakbola, melainkan badan sepakbola dari 208 negara.
Blatter mempunyai pengaruh terhadap kesemua anggota FIFA jauh lebih besar dari siapapun juga.
Pengumuman pencalonan Blatter di Kongres UEFA merupakan manuver penting untuk mendapat dukungan UEFA dan Platini.
Pertama menunjukkan pentingnya UEFA dalam percaturan politik FIFA. Kedua memberi isyarat dukungan kepada Platini yang kemungkinan berambisi untuk menjadi presiden FIFA di masa depan.
Blatter telah sejak lama menjalin hubungan baik dengan Platini dan seperti menjadikannya putra mahkota. Namun belakangan hubungan keduanya memburuk.
Hubungan Bin Hammam dulunya juga bagus dengan Blatter. Kedua adalah sekutu dan sempat bahu membahu memerintah FIFA dengan kapasitasnya masing-masing.
Entah berbeda di mana, hubungan keduanya sekarang renggang.
Merangkul UEFA
Bin Hammam sebenarnya ingin merangkul Platini untuk bersama-sama mendongkel Blatter. Tetapi pengumuman Blatter di UEFA hampir dipastikan menghapus harapan Bin Hammam tersebut.
Platini pasti mengerti bahwa bersatu dengan Bin Hammam akan mengasingkan dirinya dari negara-negara anggota UEFA dan kemungkinan menutup kesempatan untuk menjadi presiden FIFA selamanya.
Negara-negara besar Eropa melihat bahwa emberi dukungan terhadap Hammam sama saja dengan memberi dukungan bagi pergeseran administrasi sepakbola dari kawasan tradisionalnya ke kawasan baru yang sejarah sepakbolanya masih tipis.
Dan mereka tidak suka itu.
Bin Hammam harus menggandeng negara-negara non-Eropa untuk mendukungnya.
Masalahnya, tidak ada jaminan negara-negara Amerika Latin, Karibia, Afrika maupun Amerika Utara mau mendukungnya atau jangan-jangan juga sudah pasti dalam genggaman Blatter.
Langkah Blatter untuk mengumumkan pencalonan dirinya di Kongres UEFA, karenanya jangan-jangan sekadar untuk mengamankan satu-satunya kawasan, yang kebetulan juga terpenting, agar juga terengkuh dalam kuasanya.
Kalau benar...Blatter memang politisi lihai yang tidak akan demam panggung seandainya harus turun dalam dunia politik yang sesungguhnya.





























