Hikayat pemain golf yang tetap bermain saat hutan di belakangnya terbakar

Sumber gambar, Beacon Rock Golf Course / Facebook
- Penulis, Kelly Grovier
- Peranan, BBC Culture
- Telah diterbitkan
Setelah disambar petir saat turnamen di tahun 1975, pegolf Amerika Lee Trevino menyampaikan saran kepada siapa saja yang mungkin mendapati dirinya terjebak di lapangan golf saat terjadi badai listrik: "Teruskan untuk mencetak 1-iron. Bahkan Tuhan pun tidak bisa mencetak 1-iron. "
Mungkin itu kelakar yang konyol, tapi golf memiliki riwayat dalam menghasilkan ungkapan yang cerdas. Dan juga ungkapan-ungkapan yang mengharukan.
"Dari semua bahaya," kata legenda golf Sam Snead suatu waktu dalam ungkapan yang mengaburkan perbedaan antara kontur pemandangan dan kelincahan pikiran - "ketakutan adalah yang terburuk."
Mutiara kata-kata Snead tampaknya meresap ke dalam kesadaran sekelompok pegolf yang beberapa waktu lalu muncul dalam foto yang menunjukkan mereka sedang bermain di Beacon Rock Golf Course di North Bonneville, Washington, sementara di belakang mereka lidah api berkobar-kobar melahap bukit-bukit yang penuh pepohonan.
Gambar yang mengguncangkan tentang para pemain pemberani yang dengan tenang tetap tegak di tengah latar belakang apokaliptik itu banyak dibagikan di media sosial.
Ketenangan di tengah bahaya yang begitu gengting, memicu berbagai komentar yang bingung dan lucu ("Saya harap,'' tulis seorang pengguna medsos, "api melalap semua orang yang bermain golf yang bajunya tak dimasukan. Nah, saya mengatakannya.".,
Dan beberapa yang bijak juga. "Di pantheon metafora visual untuk Amerika saat ini," cuit penulis dan produser David Simon, "ini adalah (pukulan golf) yang dahsyat."

Sumber gambar, Beacon Rock Golf Course / Facebook
Pada tahun 1886, pikiran Vincent van Gogh yang begitu bergolak tersedot pada ketenangan lukisan Eugene Delacroix, Kristus Tertidur Saat Badai Prahara, saat pelukis post-impresionis ini melihat lukisna itu sendiri di Paris.
Di tengah gelombang badai dan murid-murid yang menjerit-jerit, Kristus tertidur lelap. Dalam upaya menghentikan gejolak benaknya sendiri yang penuh badai agar tidak lepas kendali, Van Gogh mendapat ketenangan dari tenangnya Kristus dengan kesadaran yang begitu jernih sebagaimana digambarkan Delacroix, yang, menurutnya, berbicara dalam 'bahasa simbolis' kepadanya 'melalui warna.'

Sumber gambar, creative Commons
Van Gogh sangat disibukkan dengan wana kuning jeruk pada lingkaran cahaya Kristus yang pasti baginya tampak membentuk pembatas antara pikiran dan materi, antara ketenangan dan ketakutan.
Lalu melesat cepat beberapa tahun menuju lukisan karya Van Gogh sendiri yang memukau dan mengagitasi, Malam Berbintang, pada tahun 1889. Cahaya halo dalam lukisan Delacroix tampak membaur menjadi pecahan bintang berkelap-kelip, masing-masing bergetar hebat.
Sebagian orang memiliki pikiran yang siap menghadapi bahaya yang menimpanya. Sebagian lagi tidak punya pilihan selain membiarkan api melalap, memainkan perannya sendiri.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The golfers who finished their round while a forest burned di laman BBC Culture





























