Apa itu PHP dan mengapa banyak situs di berbagai negara ditutup sementara?

Gambar stok yang memperlihatkan sebuah laptop dengan tangan yang sedang mengetik pada tuts, dihiasi pencahayaan neon.
    • Penulis, Osmond Chia
    • Peranan, Reporter bidang bisnis
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 5 menit

Selama lebih dari satu dekade, ada kelemahan serius yang tidak terdeteksi di teknologi yang menopang internet. Kecerdasan buatan (AI) yang mengungkap kelemahan tersebut dan kini memicu peringatan keamanan siber global.

Kerentanan itu terletak pada bahasa pemrograman bernama PHP, yang telah digunakan secara internasional sejak tahun 2000-an untuk menciptakan situs web.

Pemerintah dan lembaga keamanan siber di seluruh dunia berupaya keras untuk mengatasi dampak temuan itu pada Rabu (21/10) lalu.

Mereka juga mendesak para operator situs web untuk segera memasang perbaikan darurat (patch) baru, atau mempertimbangkan untuk menonaktifkan platform mereka untuk sementara.

Perusahaan keamanan siber Wiz—salah satu pihak yang menemukan celah itu—menyebut kelemahan sebagai yang "paling parah" yang pernah dideteksi oleh AI.

OpenAI, yang teknologinya digunakan untuk menemukan kerentanan itu, menyebut penemuan tersebut sebagai "salah satu masalah keamanan paling berdampak dalam beberapa waktu terakhir ".

Apa kelemahan yang diungkap?

Sebagian besar orang mungkin belum pernah mendengar tentang PHP—singkatan dari PHP: Hypertext Preprocessor. Namun,para pengguna internet hampir pasti berinteraksi dengannya setiap hari.

Pasalnya, PHP lah yang menggerakan sejumlah besar platform, termasuk toko online, Wikipedia, dan WordPress—sistem manajemen konten (CMS) di balik banyak situs web seperti blog.

Ketika Anda mengunjungi situs web seperti Wikipedia, PHP adalah kode yang mengumpulkan informasi yang diperlukan. PHP menampilkannya dalam format yang dapat Anda baca di web, kata Paul Spain, kepala eksekutif Gorilla Cyber Security, kepada BBC.

Akan tetapi, di dalam PHP ternyata ada celah yang memungkinkan peretas mengambil alih kendali server web yang terdampak, tanpa autentikasi serta mencuri data sensitif.

Mungkin Anda tertarik:

Akibatnya, semua hal yang dibangun di atas PHP menjadi rentan.

AI dapat membuat serangan semacam itu menjadi lebih mudah dan cepat, ujar Spain, seraya memperkirakan bahwa celah keamanan ini dapat berdampak pada "berjuta-juta" situs web.

Hal itu akan "berdampak bencana" jika peretas atau negara memanfaatkan celah ini sebagai senjata dan menyita data pribadi dari situs-situs web, kata peneliti keamanan siber Jill Slay dari University of Adelaide.

Situs web apa saja yang terdampak?

Peringatan itu telah mengganggu layanan secara global, mulai dari platform gim, portal pemerintah, hingga forum online.

Termasuk di antaranya Wikimedia—organisasi di balik ensiklopedia online Wikipedia—yang menonaktifkan sejumlah sistemnya sebagai langkah pencegahan.

Selain itu, situs dan halaman web juga telah dinonaktifkan oleh pemerintah Finlandia, Dewan Kota Edinburgh, dan BBC, sementara lembaga keamanan siber Belanda juga mematikan situs webnya.

Situs-situs web seperti milik Universitas Jenewa, Swiss, dinonaktifkan pada hari Rabu.
Keterangan gambar, Situs-situs web seperti milik Universitas Jenewa, Swiss, dinonaktifkan pada hari Rabu.

Sejumlah organisasi publik di Skotlandia, termasuk dewan kota dan lembaga kesehatan, juga telah mematikan situs web mereka.

Beberapa ahli memperingatkan bahwa kerentanan ini dapat membuat situs web yang kurang terawat—terutama milik organisasi kecil dengan sumber daya keamanan terbatas—berada pada risiko yang lebih besar.

Upaya untuk mengeksploitasi celah ini diperkirakan akan meningkat dalam beberapa minggu mendatang karena rincian teknisnya kini telah dipublikasi, kata peneliti keamanan siber Salil Kanhere dari UNSW Sydney.

Apa yang terjadi setelah celah itu terungkap?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
BBC News Indonesia - Kini hadir di
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pengembang platform PHP, pada Rabu (21/10) lalu, meluncurkan pembaruan sistem (patch) untuk memperbaiki kerentanan yang telah tersembunyi di perangkat lunak mereka selama bertahun-tahun.

"Seluruh pengguna PHP sangat disarankan untuk segera melakukan pembaruan," kata pihak pengembang itu.

Otoritas dan organisasi keamanan di seluruh dunia telah menggemakan peringatan itu kepada para pengelola situs web untuk mengamankan platform mereka.

Badan Keamanan Nasional AS (NSA) mengimbau semua organisasi yang menggunakan PHP untuk menonaktifkan sistem mereka jika tidak dapat segera menerapkan patch, seraya menambahkan bahwa celah itu dapat memberikan "akses langsung" untuk mengeksploitasi basis data sistem pada web.

"Risiko ini cukup serius sehingga memerlukan penerapan patch segera di seluruh departemen dan lembaga Pemerintah Amerika Serikat," kata badan itu.

Pusat Keamanan Siber Nasional UK (NCSC) memberikan saran serupa dan meminta organisasi web untuk memeriksa "pintu belakang [backdoor] yang dipasang oleh penyerang".

Lembaga serupa di Uni Eropa, Singapura, dan Australia juga telah mengeluarkan peringatan serupa.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengimbau masyarakat untuk memeriksa apakah situs web mereka yang dapat diakses publik menggunakan PHP.
Keterangan gambar, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengimbau masyarakat untuk memeriksa apakah situs web mereka yang dapat diakses publik menggunakan PHP.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mendesak masyarakat untuk memeriksa apakah situs web publik mereka berjalan menggunakan PHP.

"Kami menyampaikan permintaan mendesak ke semua orang untuk mengambil tindakan malam ini," tulis Takaichi di X.

"Jika sulit untuk menerapkan patch perbaikan dengan cepat, penangguhan sementara situs web dan langkah serupa dapat dianggap sebagai cara yang efektif untuk mengurangi risiko," katanya.

Perusahaan-perusahaan teknologi juga berlomba-lomba mengamankan sistem mereka.

Raksasa e-commerce Amazon mengatakan bahwa pihaknya telah menjadi sasaran dari beberapa serangan dalam beberapa hari, sebelum isu PHP ini dibuka ke publik.

Belum diketahui bagaimana calon penyerang mengetahui adanya kerentanan itu.

Bagaimana AI menemukan titik lemah?

Kerentanan ini ditemukan oleh para peneliti di perusahaan keamanan siber, Calif dan Wiz.

Para peneliti menggunakan alat AI canggih yang mampu menganalisis kode dan menemukan celah jauh lebih cepat daripada yang bisa dilakukan manusia atau sistem lama.

"Perangkat lunak modern sangat kompleks, dan beberapa kerentanan dapat tetap tidak terdeteksi selama bertahun-tahun," kata Kanhere.

"Kesalahan mendasar itu bukanlah hal baru; yang berubah adalah kemampuan kita untuk menemukannya," ujar Kanhere.

Rincian temuan ini bocor secara online pekan ini, yang memaksa pengembang platform PHP untuk segera mengumumkan celah keamanan itu beserta skalanya yang masif.

Insiden ini "menyoroti bagaimana AI dapat mengungkap celah keamanan," tetapi juga bagaimana AI dapat "membantu penyerang dengan cepat mengembangkan alat serangan dan eksploitasi," ungkap OpenAI dalam sebuah unggahan blog.

Perusahaan pembuat ChatGPT itu menyatakan telah merilis program untuk memeriksa apakah platform PHP yang digunakan aman atau tidak.

"Banyak dari celah ini muncul akibat cara pengembangan perangkat lunak di masa lalu, yang dirancang untuk fungsionalitas dan bukan dengan mempertimbangkan faktor keamanan," kata Ryan Ko dari Cyber Research Centre University of Queensland.

Apa yang bisa dilakukan untuk melindungi diri?

Pemilik situs web didesak untuk mengamankan situs mereka dengan menggunakan versi PHP terbaru.

Patch perangkat lunak PHP merupakan perbaikan rutin yang kecil bagi sebagian besar tim teknis, kata Spain.

NSA AS mendesak "peningkatan kewaspadaan" dalam beberapa minggu mendatang dan meminta agar pembaruan dari vendor perangkat lunak dipantau secara ketat.

"Kewaspadaan dalam menerapkan patch yang terkait dengan sistem itu sangatlah penting," tegasnya.

Tanggung jawab utama terletak pada pengelola situs web, namun pengguna juga harus tetap waspada terhadap saran keamanan apa pun yang dikeluarkan oleh layanan terdampak—seperti permintaan untuk mengubah kata sandi—kata Kanhere.

Ia juga memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai pesan penipuan (phishing) yang mungkin memanfaatkan perhatian publik terhadap insiden ini.